Rabu, 18 Oktober 2017

Diposting oleh Unknown di 07.32
Assalamu'alaikum wr wb
Selamat malam sahabat
Malam ini saya ingin menuangkan tulisan dari sebuah novel yang pernah ku buat semasa SMA. Sebenarnya isinya agak garing, but happy reading ^_^

Idolaku
BAB 1
                Tak ada yang mengira hari ini begitu indah, semilir angin berhembus sejuk membawa kedamaian di hati. Di antara rindangnya pohon yang tumbuh kokoh, seorang gadis yang masih berseragam SMA duduk termenung menatap indahnya suasana sore itu. Bau rumput yang masih basah karena hujan masih terasa, gerimis hujan selalu membuat hatinya bahagia.
                “Tasya!” Seorang gadis yang juga masih memakai seragam SMA berteriak memanggil namanya, dan sedang berjalan menghampirinya di bawah pohon.
                “Loh, Nanda kamu ngapain disini?” Tanya Tasya heran.
                “Aku tadi mencarimu, kata Gina kamu ada di taman ini, jadi aku ke sini deh.”
                “Kamu belum balik Nan?”
                “Iya, kamu juga kan. Tapi darimana saja kamu, katanya mau nunggu aku pulang dari latihan basket.”
“Ya tadinya aku juga dari sekolah, nungguin kamu. Tapi aku pergi ke ruang seni,Kak Alvin ngadain konser kecil di sana, sayangnya aku malu untuk melihatnya lama-lama. Jadi kabur ke sini deh.” Jelas Tasya panjang lebar.
                Nanda menatap mata Tasya, “Apa? Jadi kamu kagum betul dengan Si Alvin itu.” Nanda kemudian duduk di samping Tasya, dengan tatapan yang serius.
                “Yupp.” Jawabnya singkat
                “Kamu serius?” Mendekat dengan tatapan yang sama.
                “Ya iyalah, semua cewek di sekolah kita kagum dengannya. Secara dia pintar dalam pelajaran dan jago nyanyi, suaranya itu membuat aku bersemangat, dia juga ganteng, pokoknya T.O.P BGTlah.” Mata  Tasya berbinar-binar menatap Nanda di sampingnya.
                Nanda memeriksa dahi  Tasya, siapa tau Tasya kesambet karena kena guna-guna dari Alvin. “Semua cewek yang ngefans Kak Alvin bodoh, karena udah jelas Kak Alvin cuek bebek sama cewek, masih aja dikejar-kejar.”
                “Ih, apa-apaan sih kamu. Aku gak sakit kok.” Tasya melepas tangan Nanda  yang menempel di dahinya.
                “Gak, siapa tau kamu kesambet guna-gunanya Alvin.”
                “Siapa juga yang kesambet, sok tau. Aku kan juga bukan cewek yang suka kejar-kejar Alvin, aku kan mengaguminya diam-diam, jadi aku bukan cewek bodoh seperti ucapanmu.” Ujar Tasya yang mulai kesal melihat Nanda.
                Nanda refleks  menjitak kepala Tasya, “Sama aja kali, apa bedanya coba.”
                “Terserah deh, pokoknya Kak Alvin idolaku.”
                “Up to you deh Tasya, kalau aku sih  secuil pun gak suka dia.” Ujar Nanda enteng.
                Sekarang  giliran Tasya yang menatap Nanda dengan wajah yang serius, “Kamu betul gak suka Kak Alvin?”
                Nanda yang kaget, menelan ludahnya beberapa kali. “Betul kok, emang salah ya?”
                Tawa Tasya tiba-tiba meledak, “Hahahaha, kamu norak Nan. Gak ngerti yang namanya cinta.” Jelas Tasya, dengan memperlihatkan kedua tangannya yang membentuk hati.
                Karena tak ingin ditertawakan Tasya, Nanda mengalihkan pembicaraan. Melirik jam tangan hijaunya yang diberi oleh ibu Tasya, hadiah ulang tahunnya sebulan yang lalu. Nanda memang tinggal serumah dengan Tasya, karena sejak  kecil ibu Nanda meninggalkan Nanda pada Bu Reni, ibu Tasya. Karena itu Nanda sangat benci dengan ibu kandungnya, yang tega meninggalkan Nanda sewaktu kecil.
                “Eh, udah jam enam nih. Pulang yuk Sya, entar Tante Reni marah lagi.”
                “Kamu mau mengalihkan pembicaraan ya, ayooo?”
                Nanda jadi gelisah, “Gak kok, aku juga pernah kali ngerasain yang namanya cinta.”
                “Benarkah, sama siapa Nan?”
                Nanda langsung beranjak dari duduknya, dan berlari meninggalkan Tasya di bawah pohon. “Kamu gak usah tau, ayo pulang.” Teriak Nanda yang semakin menjauh.
                “Nanda tunggu, jangan ninggalin.” Berlari mengejar Nanda dibawah hari yang sudah mulai gelap.
                “Hahahaha, ayo kejar Sya. Payah kamu.” Ledek Nanda
                Tasya pun ikut tertawa, dan berlari untuk mengejar sahabatnya itu. Dalam tawanya ia berharap semoga Kak Alvin juga bahagia sore itu hingga malam menjelang pagi esoknya.
******
                Matahari mulai menampakkan sinarnya, sinar cahayanya menembus celah jendela kamar dua orang gadis yang tidur sekamar. Gadis yang satu sudah terbangun daritadi, karena   ia barusan  selesai melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam, ia pun juga sudah mandi dan berpakaian seragam sekolah. Sementara, gadis yang satunya lagi masih tidur dengan nyenyak, walaupun waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat sebelas.
                “Dasar tukang molor, kerjaannya tiap hari begini terus.” Tasya sudah mulai garuk-garuk kepala, kepalanya bukan gatal karena ketombe, tapi karena jengkel melihat kelakuan sahabatnya.
                Tasya mulai menghitung kebiasaan buruk Nanda, mau tau? Ya udah baca aja nih. Pertama, tukang molor. Kedua, kalau habis main basket keteknya pasti bau, gara-gara jarang pakai deodoran, alasannya sih karena keteknya itu kadang iritasi dan gatal sesudah memakai deodoran. Ketiga, jarang salat. Keempat, keras kepala dan suka main kucing-kucingan, maksudnya nih bukan main kucing loh. Kalau gak tau kucing, nih gue kasih tau. Kucing itu sejenis hewan mamalia yang imut banget. Nah, suka main kucing-kucingan yang dimaksud artinya suka nyembunyiin rahasianya, gak mau tuh dia curhat sama Tasya. Yang terakhir, suka kentut sana-sini. Kadang Tasya juga malu dibuatnya, tapi selain kelakuan buruknya itu, ada juga loh kelakuan baiknya. Ya iyalah, tapi kalian cari tau aja sendiri ya dengan membaca cerita ini sampai tamat. Capek dong nulisnya kalau mau jelasin sifat baiknya satu-satu, kalau capek mau pijitin aku? Gak kan, ya udah baca aja sendiri. Hemmmm, lanjut dengan ceritanya…
                “Nan, Nanda ayo bangun!” Bisik Tasya tepat di kuping Nanda yang masih tidur. Tapi, Nanda masih asyik tidur dan malah tersenyum geli dengan mata yang masih tertutup.
                “Ihhh, Nanda. Susah banget dibanguninnya, apa dia mimpiin cowok yang dia suka ya.” Batin Tasya dalam hati. Ia pun membangunkan Nanda lagi, “Nandaaaaaaaaaa!!!!” Teriak Tasya, tepat di kuping Nanda
                “Ahhhhhh,,,,,” Nanda bangun, ia terkejut dan kesal melihat Tasya.
                “Tasya, kan udah aku bilang. Kalau mau ngebangunin aku, jangan teriak di kuping dong. Lagi mimpi main basket dengan Denny Sumargo juga, malah dibangunin.”
                “Makanya, kalau gak mau digituin, bangun pagi-pagi.”
                “Iya.” Ucap nanda pasrah.
                Tasya melemparkan handuk ke Nanda, “Mandi deh sana, badanmu udah bau.”
                Nanda pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, ia masih kesal melihat Tasya, dan menjulurkan lidahnya setiap Tasya menatapnya dengan tawa kecilnya.
                “Hemmm, lebih baik aku keluar sarapan.” Batin Tasya yang kemudian keluar menuju meja makan, suara gemercik air ia dengar di kamar mandi. Berarti, Nanda gak melanjutkan tidurnya di kamar mandi, ia benar-benar melakukan yang diperintahkan Tasya. “Habis mandi, jangan lupa pake deodoran.” Teriak Tasya yang melintas di depan kamar mandi.
                “Iya, bawel lu.” Sahut Nanda dari dalam kamar mandi.
                “Hihihihihi…” Tasya tertawa sendiri, berjalan menuju meja makan, dan masih saja tertawa.
                “Kamu kenapa Sya, sakit?” Tanya Bu Reni, ibu Tasya.
                “Aku gak sakit bu, cuma lucu aja lihat Nanda.”
                “Lucu, kalau lucu jangan diketawain toh.” Ujar Bu Reni yang daritadi berjalan mondar-mandir membawa sarapan pagi dari dapur ke meja makan.
                “Iya deh, Tasya gak ketawa lagi. Bu, ibu masak apa buat sarapan pagi ini?” Perut Tasya tak sanggup lagi menahan rasa laparnya, karena mencium bau harum dari masakan ibunya.
                “Ya, masak apalagi, kalau bukan nasi goreng kesukaan kamu. Kita kan gak punya cukup uang kalau sarapannya pake ayam, daging, sayur dan lainnyalah.”
                “Ya elah ibu, kalau makan itu sih bukan breackfast namanya, tapi udah porsi lunch.”
                “Kamu ngomong opo toh Sya, ibu kagak ngerti.”
                Tasya geleng-geleng kepala, lupa kalau ibunya gak tau bahasa Inggris.
                “Breackfast itu artinya sarapan bu, kalau lunch artinya makan siang.”
                “Makanya, kamu itu jangan pake bahasa planetmu toh Sya.”
                Tasya memejamkan matanya sesaat, “Ibu, itu bukan bahasa planet, tapi language English alias bahasa Inggris.”
                Bu Reni mengangguk-anggukkan kepalanya, pura-pura mengerti apa yang diucapkan Tasya.
                “Ya weslah terserah kamu, yang penting belajar yang bener.”
                “Aku kan udah belajar yang bener, buktinya dapet beasiswa.”
                Bu Reni mengusap-usap kepala anaknya, “Bagus, itu namanya anak ibu.”
                Tiba-tiba Nanda datang dengan masih mengenakan handuk ditubuhnya, ia berjalan dan duduk di depan Tasya.
                “Tante, jangan Tasya aja yang dipuji. Aku juga dong.” Mengambil nasi goreng di depannya dengan santai.
                “Hmmm, maunya.” Ledek Tasya
                “Emangnya, kamu pinter apa Nan?” Bu Reni berpikir sejenak,  mengingat prestasi apa saja yang diperoleh Nanda di mata pelajaran sekolahnya. Tapi, Bu Reni tidak mendapatkan, ya karena memang Nanda payah soal pelajaran. Ia aja benci pelajaran bahasa Indonesia apalagi pelajaran yang berhubungan dengan perhitungan.
                “Aku kan jago basket bu, jarang loh ada cewek pinter basket. Bentar  lagi aku juga bakal kepilih jadi ketua tim basket cewek di sekolah.”
                “Gitu aja bangga.” Tasya menjulurkan lidahnya dengan wajah kesal melihat Nanda.
                “Mmm, dalipada ka..mu.. lye..mah.”  Tandas Nanda yang masih mengunyah makanannya.
                “Lemah, tapi otak encer.” Balas Tasya dengan bangganya.
                “Sudah, kalian jangan bertengkar lagi.”
                “Tasya tuh,  tante yang duluan.”
                Tasya tidak terima dengan tuduhan Nanda, ia tidak mau kalah. Dengan kesalnya ia mengambil semua nasi goreng di depannya, dan memakannya dengan lahap.
                “Dasar rakus,.” Nanda juga mengambil semua susu yang tersedia, bahkan susu untuk Tasya pun ia ambil secepat kilat.
                “Ehhh, susuku. Ehekk, ehek,,ehek.” Tasya keselek karena menyantap semua nasi goreng di  piringnya dengan tak hati-hati.
                “Rasain.” Ledek Nanda yang memperlihatkan susu yang ia teguk sedikit demi sedikit ke dalam tenggorokan.
                “Nan, plis bagi dong. Huk,,huk,,huk.” Bu Reni yang mendengar dari dapur, segera berlari membawa segelas air putih.  “Nih, minum.” Katanya kalem.
                “Huhhh, lega.” Ucap Tasya, yang merasakan betul nikmatnya setiap air yang masuk ditenggorokannya.
                Selesai keduanya makan, Bu Reni lalu membereskan piring, dan gelas di atas meja makan yang telah digunakan. Dan berbalik ingin menuju dapur, tapi langkah Bu Reni terhenti dan berbalik menatap kedua anak itu. “Nanda, cepat makan terus pakai baju. Tasya, kamu nanti jangan sampai keluyuran lagi sepulang sekolah, bantu ibu jaga di toko bunga.”
                “Sya, tante Reni marah ya?”
                “Mungkin.” Jawabnya pendek, dan beranjak meninggalkan Nanda.
                “Maaf ya tadi.”
                “Gak pa-pa kok.”
                Nanda tersenyum kembali, mereka kembali akur. Layaknya film Tom and Jerry, sebentar akur, sebentar musuhan. Tapi semuanya tidak lama, karena rasa persahabatan mereka lebih besar.
*****
                Tik, tik, tik, rintik hujan turun lagi. Tapi tak seperti hari sebelumnya, pagi itu hujan lebat. Untunglah Tasya dan Nanda sampai di sekolah tepat sebelum hujan turun, udara dingin menyelimuti pagi itu.
                “Sya, dingin banget ya. Kamu merasakannya juga gak?” Tanya Gina teman sebangkunya
                Tasya mengerutkan keningnya, “Gin, semua orang juga rasain kali, termasuk aku.” Jawabnya ketus.
                “Iya ya, kok gue bego’ gitu ya.” Gina bingung sendiri dan menggaruk-garuk kepalanya.
                “Bukan aku yang ngomong loh, kalau kamu bego’.”
                Nanda yang berada tepat di belakang Tasya, sedang asyik sendiri bermain PS yang dipinjamnya dari Randi teman sekelasnya. Itu sudah termasuk hobi Nanda setiap hari, selama menunggu guru masuk di kelasnya. Karena Nanda pikir daripada gosip pagi, menimbulkan dosa, lebih baik santai main PS, apalagi PS pinjaman.
                “Hussst, berisik kalian berdua.” Kesal Nanda yang merasa bahwa dirinya terganggu dengan suara di depannya.
                Tasya dan Gina saling lirik, “Kita gak boleh berisik Sya, macan mau ngamuk.”
                “Gina yang lemot, gak usah nyari gara-gara ya. Gue lagi asyik main nih.” Ujar Nanda yang daritadi sibuk mengotak-atik game PS milik Randi.
                “Okey deh.” Ucap Gina lirih.
                Bel tiba-tiba berbunyi, dan siswa sekelas Tasya yang masih di luar disusul guru yang mengajar pagi itu masuk berbarengan ke dalam kelas. Bu Siska guru matematika yang mengajar di kelas dua, masuk dengan meneteng tas berwarna ungu merek Gucci. Wanita berumur 30 tahun itu memang suka dengan warna ungu, bahkan setiap masuk di kelas Tasya, Tasya hafal betul tas yang Bu Siska pake, yaitu warna ungu tapi dengan berbeda merk.
                Dengan anggunnya Bu Siska berjalan di depan kelas, dan langsung menaruh tasnya di atas meja. Kali ini, ia juga memakai sepatu ungu, dengan rok tepat di lutut. Di sekolah Tasya memang masih sedikit yang memakai jilbab, dari gurunya, sampai siswanya. Karena tidak semua penghuni sekolah itu, mayoritas Islam. Jadi siswanya pun tidak diwajibkan juga memakai jilbab dan baju lengan panjang dengan rok pas di mata kaki. Sesuai dengan hati nurani mereka sendiri, asalkan ada kemauan mereka pasti berjilbab, menutup aurat. Bahkan di kelas Tasya, hanya Anisa yang memakai jilbab, walaupun banyak di kelas itu yang beragama Islam, tapi mereka belum siap aja.
                “Pagi, anak-anak.” Sapa Bu Siska
                “Pagi bu.” Jawab seluruh siswa di kelas. Nanda cepat-cepat menaruh game PS Randi di laci mejanya, takut Bu Siska menangkapnya lagi, terus ia dan Randi harus dihukum karena bermain di kelas.
                “Baiklah sebelum memulai pelajaran, ibu absen dulu menurut siswa yang mendapatkan nilai tertinggi ujian matematika minggu lalu.”
                “Asyik.” Batin Tasya dalam hati-hati, ia merapatkan kedua tangannya dan berdoa memejamkan mata, mudah-mudahan aku berhasil lagi ya Allah.
                “Natasya Anggreni, selamat kamu dapat nilai 100.” Ucap Bu Siska kemudian, dan dibarengi tepuk tangan teman-temannya. Bu Siska mendekati Tasya, meletakkan lembar jawaban Tasya. “Selamat ya!” Lanjutnya dengan senyuman tipisnya yang memakai lipstick berwarna ungu muda.
                Tasya meraih kertas itu, melirik dan memeluknya kemudian, terima kasih Tuhan, dan  terima kasih ibu.
                Bu Siska kemudian berjalan menyebarkan lembar jawaban siswa yang telah diperiksanya, kini tiba giliran Nanda. Bu Siska berhenti di dekat Nanda, terdiam sejenak dan geleng-geleng kepala dengan wajah kecewa.
                “Nanda Purnamasari, kamu tambah maju.”
                “Benarkah bu?” Tanya Nanda dengan wajah yang tak percaya, padahal minggu lalu saat ujian ia tidak pernah belajar, dan dari 20 nomor hanya 5 yang mampu ia jawab. Masa kali ini, nilainya meningkat, benar-benar mustahil.
                “Teman-teman kalian jangan ngehina gue lagi, gue kali ini lulus. Nilaiku meningkat, iya kan bu?” Teriak Nanda dengan girangnya.
                “Iya, nilaimu meningkat dari 32  menjadi  41. Ini termasuk kemajuan yang payah.” Ngomel Bu Siska kemudian.
                Tawa teman-temannya pun meledak mendengar omongan Bu Siska, Tasya juga ikut tertawa.
                “Hussst, sudah diam!”
                “Hemmm, aku kirain dapet 70 ya cuma naik 9 angka.” Batin Nanda dalam hati.
                “Bener-bener disayangkan, padahal kamu serumah dengan Tasya. Apa kamu gak pernah belajar dengannya?”
                Nanda hanya menunduk dan tersipu malu, “Gimana mau belajar bareng bu, dianya gak suka main basket. Dan aku juga gak suka pelajaran matematika, nah gimana kami mau belajar bareng coba.”
                “Maksudnya?”
                “Kata ibu barusan, kenapa aku gak belajar bareng, ya dia gak suka main basket bu. Jadi, aku gak bisa deh belajar basket bareng dia.”
                “Bukan soal itu, tapi soal mata pelajaran.”
“Emang dari sononya kali bu..”
                “Ckckckck, keluar sekarang!” Bu Siska berdecak kesal
Nanda beranjak dan memeluk tasnya, “Baik, saya akan berusaha bu lain kali.”Ucapnya kemudian
Wanita itu hanya menatap Nanda dengan sorotan mata yang antara kesal dan kasihan, tapi terlanjur dia sudah menyuruh siswanya itu keluar.
Selepas Nanda keluar, pelajaran kembali dilanjutkan.
“Sya, thanks ya bantuanmu kemarin.” Bisik Gina di sela pelajaran berlangsung.
“Bantuan apa?”
“Berkat kamu kan aku dapet nilai 80 diujian ini, masa gak tau maksud aku.”
“Oh, sama-sama.”
Gina bersyukur dalam hati, untung dia dapet 80. Kalau tidak dia juga mungkin akan disuruh keluar, soalnya pikir aja dia dari kelas satu SMA sebangku Tasya, masa dia gak pinter-pinter juga.
                Jam istirahat di kantin, Tasya, Nanda, dan Gina memilih duduk di samping pintu masuk. Alasannya sih kalau jam masuk, mereka cepat keluar jadi  gak harus antri.
                “Aduh untung,  tadi pagi hujan turun,  jadi cuaca dingin. Kalau gak, bisa-bisa perasaan gue tadi pagi panas. Bu Siska kejam banget nyuruh gue keluar, gak tau apa kalau orang bego’ yang musti dapet ilmu yang lebih.” Curhat Nanda pada kedua sahabatnya.
                “Syukur gue dapet nilai tinggi, hampir aja nasib gue sama kayak elu Nan.”
                “Saba raja ya Nan.” Hibur Tasya.
                “Sya, akhir-akhir ini kita sering makan di kantin Mbak Cici deh. Perasaan ini bukan tempat nongkrong kita dulu, jangan-jangan ini cuma alasan kalian.”
                Tasya hanya cuek mendengar Gina, ia sedang menikmati  batagor yang ia pesan, sambil menunggu Kak Alvin masuk ke kantin Mbak Cici.
                “Biar gue yang jawab Sya.” Celetuk Nanda
                “Emangnya mau jawab apa kamu?”
                “Gini ya Gin, kita itu kesini buat makanlah. Jadi jangan salah paham ya, ngerti kowe?”
                “Ya wes aku ngerti.”
                “Good.” Ucap Nanda mengacungkan kedua jempolnya.
                Saat yang dinanti-nanti pun tiba, Alvin beserta keempat teman cowoknya dan dua teman ceweknya masuk ke kantin. Berjalan seakan itu rumah mereka, dengan sombong dan angkuhnya mereka duduk di tempat biasa mereka nongkrong. Melihat itu, Mbak Cici langsung menghampiri mereka.
                “Mau pesan apa mas?” Tanya Mbak Cici kalem.
                “Biasalah Mbak, makanan yang paling mahal di tempat ini.” Jawab Romi, sahabat Alvin.
                “Iya mas, kalau gitu saya bikinin dulu. Permisi.” Pamit Mbak Cici buru-buru. Sementara kedua cewek di dekat Alvin, mengusir Mbak Cici dengan angkuhnya. “Husssttt, sana pergi!”
                Tasya dan Gina tampak terpukau melihat kedatangan Alvin, tapi ternyata  bukan hanya mereka berdua yang terkagum-kagum dengan Alvin, melainkan siswa wanita yang ada di kantin itu pun sama halnya. Mereka berhenti makan, mengunyah, minum, hanya karena terpukau dengan ketampanan Alvin. Tapi tak hanya Alvin yang tampan keempat temannya pun sama mulai dari Romi, Denny, Zul, danTommy. Banyak yang mengatakan bahwa kedua cewek yang mengikuti mereka berlima memang beruntung, karena memang tidak sembarangan orang yang bisa dekat dan mengobrol dengan Alvin. Namanya Luna dan Gaby, mereka berdua adalah cewek terkenal dan kaya, mereka sering menyebut dirinya duo angel yang mendampingi para ksatria yang tampan. Tapi sayang, karena kekayaan mereka, mereka juga sangat sombong dan angkuh.
                “Sya, kalau ketemu mereka tiap hari mah, gue juga mau kok makan tiap hari disini.”
                “Aduh, Gina dan Tasya. Apa yang istimewa sih dari mereka?” Tanya Nanda yang daritadi garuk-garuk kepala dan sesekali geleng-geleng kepala, pusing sendiri.
                Mendengar itu, akhirnya Tasya angkat bicara. “Nan, mereka cool tau, liat aja mereka sangat cuek.”
                “What, cool, cool apanya? Itu mah namanya sombong bu.”
                “Ih, dasar Nanda norak.” Ledek Gina
                “Kalian berdua tuh yang norak, cabut yuk.”
                “Tapi batagornya belum habis Nan.”
                “Alah, itu cuma alas an elu doang .”
                Nanda lalu menyambar dan menghabiskan batagor yang masih tersisa, tapi karena buru-buru melahapnya, tanpa sadar ia memuntahkannya lagi.
                “Ueeee,,,,” Semua  makanan yang ada di perut Nanda juga ikut jatuh di lantai bersama batagor yang masih belum terkunyah betul.  Semua pandangan tertuju kepada Nanda.
                Alvin dan semua penghuni yang ada di kantin Mbak Cici saat itu melihatnya, mereka otomatis merasa jijik. Ada yang keluar buru-buru karena merasa ikut mual, dan ada yang tampak kesal karena selera makannya hilang.
                “Ihh,,, jorok banget.” Ucap Luna dan Gaby bebarengan.
                “Dasar cewek jorok.” Maki siswa yang lain.
                “Nan, lu jorok banget sih.”
                “Kacau nih Gin.” Tasya juga ikut panik.
                Nanda yang masih merasa mual, meneguk secepat kilat teh  botol di depannya. Semua siswa yang melihat terheran-heran dan bengong.
                “Busyet tuh cewek, selain jorok anaknya juga rakus.” Celetuk  Denny.
                “Benar.”
                Alvin beranjak dari duduknya, “Nafsu makanku hilang, kita balik ke kelas aja.”
                Karena nafsu makan Alvin hilang, akhirnya keenam temannya juga gak jadi makan. Tapi walaupun begitu, Alvin tetap membayar makanan yang ia pesan. Namanya juga orang kaya.
                “Mbak, makanannya kasih aja semua sama yang lain.” Teriak Alvin.
                “Iya mas, siplah.”
                “Uangnya, saya tinggal disini.” Mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dompetnya dan menaruhnya di atas meja.
                “Ayo cabut.” Ucap Alvin kemudian.
                “Yuk Al, gue juga enek lihat tuh anak.” Tambah Luna.
                Mereka pun akhirnya keluar, dan tampak sebagian siswa merasa kecewa dan kesal melihat sikap Nanda.
                Seorang siswa cewek pun menghampiri Tasya, Nanda, dan Gina.
                “Hai, lain kali kalian gak usah makan disini deh. Bikin selera makan kami jadi terganggu.Ngerti!” Gertaknya.
                Tasya dan Gina hanya bisa mengangguk pasrah, sementara Nanda hanya bisa ngomel dalam hati. Mau melawan tapi takut, karena yang mereka hadapi adalah kakak kelasnya, mereka takut untuk mencari maslaah.
                “It’s ok kak, lagi pula makanan disini biasa aja tuh. Yuk, Sya kita balik ke kelas.” Menarik lengan Tasya, dan segera kabur.
                “Eh, aku jangan ditinggal.” Gina ikut kabur buru-buru mengikuti langkah kedua sahabatnya itu.
*****
                 Bel pulang berbunyi,  semua siswa berhamburan keluar dari  kelasnya masing-masing . Cuaca kali ini masih mendung, sepertinya hujan akan turun lagi seperti paginya. Membuat suasana menjadi tentram, begitu pun perasaan Tasya, yang bahagia jika hujan tiap kali turun.
                “Aduh, maaf ya Nan, kali ini aku gak bisa nunggu kamu latihan.”
                Nanda yang berjalan disamping Tasya, menjadi manyun. “Ya elah Sya, kemarin gak nemenin aku, hari ini pun  juga tidak, tega bener kau padaku.”
                Langkah Tasya tiba-tiba berhenti di depan pintu disusul langkah Nanda. “Tadi pagikan kamu denger sendiri omongan ibuku, hari ini aku gak boleh pulang telat kayak kemarin.”
                Nanda menghela napas beberapa kali, “Ya udah deh Sya, biar aku pulang sendiri nanti.”
                “Kamu gak marah kan?”
                “Iya, gaklah.” Ucap Nanda singkat, lalu tersenyum lebar menatap sahabatnya.
                “Kalau gitu aku pulang dulu ya Nan, udah jam dua lewat juga. Ntar aku kehujanan lagi di tangah jalan.”
                “Hmmm, itukan yang kamu suka.”
                “Hehehe, tau aja.”
                “Kalau aku mah, malah benci yang namanya hujan. Bawa penyakit, terus gak bisa main basket lagi.”
                “Basket aja dipikiranmu, ya udah aku cabut dulu ya.”
                “Eitss, tunggu dulu Sya.” Cegat Nanda tiba-tiba.
                “Kenapa lagi Nan?”
                Nanda mengeluarkan sebuah jaket berwarna abu-abu dari tasnya. “Nih, ambil ini. Siapa tau aja kamu kehujanan di tengah jalan, jadi pake aja jaket kesayanganku ini.”
                “Kamu tau kan, kalau aku gak takut hujan?”
                “Iya, tapi kalau kedinginan gimana?”
                 Tasya terdiam sejenak, kemudian meraih jaket Nanda. “Ya udah deh, tengkyu ya. Bye..” Pamit Tasya, melambaikan tangannya hingga hilang dipandangan mata Nanda.
                Langkah Tasya tiba-tiba terhenti  diparkiran yang terlihat sepi, ia kemudian langsung bersembunyi di balik semak-semak ketika melihat  dua orang siswa cowok yang mengotak-atik mobil  Alvin.
                “Itukan, Kak Zul dan Kak Tommy, sedang apa mereka.” Pikir Tasya dalam benaknya.
                “Zul, lu yakin rencana ini bakal berhasil?” Tanya Tommy, yang sudah selesai  dengan kerjaannya.
                Zul melap keringatnya yang bercucuran di kening dan leher, padahal  siang itu mendung , terik matahari tidak panas sama sekali, dan itu membuat Tasya makin curiga. Tasya melanjutkan menguping pembicaraan dua cowok itu, walaupun tak terlalu jelas ia dengar.
                “Yakinlah,  pas mobilnya melaju, remnya blong dan dia bakal mampus.”
                “Bagus, itu yang gue suka. Dan tak ada lagi saingan kita di sekolah ini.” Tambah Tommy.
                “Dan lu udah pastikan kan,  kalau anak-anak yang lain gak ikut pulang bareng ma Alvin?”
                “Udahlah, mereka kan dari tadi udah cabut. Kalau Alvin masih latihan vokal katanya.”
                “Hahahaha, bagus.” Tawa picik  Tommy dan Zul meledak.
                Sementara itu,
                “Astagafirullah Al Azim, Kak Tommy dan kak Zul ternyata jahat. Aku harus gagalkan rencana mereka, tapi gimana caranya ya?” Tasya menggigit bibirnya, berpikir keras untuk menyelamatkan idolanya itu.  Dia ingin langsung beritahu Alvin,tapi menatap wajah Alvin dari dekat  saja ia tidak berani,  apalagi bicara, karena groginya tingkat tinggi.
                “Aku tunggu aja kali ya kak Alvin, terus  aku harus berani ngomong ma dia. Ya harus!” katanya mantap.
                Setengah jam,  Tasya menunggu di balik semak-semak itu, ia tak berani keluar karena Zul dan Tommy juga menunggu Alvin di parkiran. Siswa yang lain memang sudah kebanyakan pulang, dan hanya tampak sedikit mobil dan motor yang masih parkir, mungkin itu milik siswa yang masih latihan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
                “Zul, balik aja yuk.”
                “Loh, memangnya kamu gak mau lihat Alvin celaka.”
                Tommy garuk-garuk kepala, “ Ya pengenlah, tapi kalau dia lihat kita disini,  bisa ketahuan dong.”
                Zul berpikir sejenak, “Omongan lu ada benernya juga.  Ya udah kita tunggu dia, di bawah pohon di lorong dekat sekolah. “
                “Nah, kalau disitu aku setuju, kita gak bakalan dilihat ma Alvin.”
                “Yoi bro.” Zul kemudian mengeluarkan kunci mobilnya dari saku, dan bergegas menuju tempat yang ia maksud.
                Setelah keduanya pergi, Tasya akhirnya bisa keluar juga. Badannya sudah terasa gatal, karena terlalu lama bersembunyi. Rintik hujan pun turun perlahan membasahi tubuh Tasya yang berdiri mematung menunggu Alvin. Tasya mengeluarkan jaket Nanda yang diberikan oleh Nanda tadi, dan memakainya.
                “Aduh, Kak Alvin sampai jam berapa sih latihannya, lama benget deh.” Kata Tasya.
                Selang beberapa menit, akhirnya Alvin pun keluar. Ia tampak sendiri  dengan menenteng gitar kesayangannya, dan kunci mobil yang ia mainkan ditangan.
                “Pergi gak ya, pergi gak ya. Aduh aku grogi nih.”
Tasya menarik napas pelan-pelan, dan menghembuskannya lagi.  “Huuuu,,”
Alvin membuka pintu mobilnya, dan ia pun masuk.
“Waduh, terlambat. Kak Alvin keburu masuk.”  Tasya panik sendiri, dia seperti cacing kepanasan.” Aduh, bodoh aku” Ngomelnya pada dirinya sendiri.
Karena tak ingin ketahuan, Tasya berlari keluar pintu gerbang dengan sembunyi-sembunyi, dibalik semak-semak yang rimbun. Ia akhirnya sampai di depan pintu gerbang yang jaraknya memang dekat dari parkiran. Sebelum mobil Alvin keluar, Tasya berlari lagi menunggu mobil Alvin di dekat lorong yang dimaksud Zul dan Tommy.
Tak lama kemudian mobil Alvin pun keluar, dan melaju dengan kecepatan yang cepat. Tiba di dekat Zul dan Tommy menunggu, Tasya yang sudah melihat mobil Alvin telah nampak,  langsung berdiri di tengah jalan dan melambaikan tangannya, berteriak sekeras mungkin.”Berhenti Kak, remnya blong.”
Zul dan Tommy yang melihat kejadian itu terlonjak kaget, awalnya mereka tak curiga dengan sikap Tasya yang berdiri sendiri menunggu seseorang, dan ternyata yang ia tunggu adalah Alvin.
“Gawat nih Tom, kenapa cewek itu bisa tau ya?”
“Gue juga gak tau, siapa juga cewek itu.” Tommy mengherdikkan bahunya.
“Tuh cewek yang tadi di kantin Tom, teman cewek jorok itu.”
“Iya gue ingat, berarti dia lihat kita tadi.”
“Waduh, gawat nih.”
Di dalam mobil, Alvin pun kaget, tapi ia tak melihat jelas wajah cewek yang ada di depannya,  karena kaca mobilnya basah tertutupi rintik hujan yang turun. “Siapa gadis itu,dasar gila. Dia pasti fans fanatikku, dia pikir aku mau ditipu dengan gayanya yang aneh itu.”  Alvin bermaksud turun dan ingin memaki gadis itu, tapi saat remnya ia injak, mobilnya malah tak berhenti. Mobil itu terus melintas, dan Alvin membanting setir ke kiri ke kanan, berusaha tak menabrak Tasya. Tapi terlambat, Tasya tertabrak dan tubuhnya terbanting,  kepalanya membentur aspal dengan keras, darah pun deras mengalir dari kepalanya. Mobil Alvin berdecit keras dan berhenti ketika  menabrak sebuah  pohon. Jalanan itu tampak sepi, karena memang jarang di lewati orang banyak, Zul kemudian keluar disusul oleh Tommy.
“Kita bawa gadis ini ke rumah sakit Tom.” Kata Zul panik, dibawah rintik hujan yang turun.
“Iya, kita harus tanggung jawab. Seharusnya Alvinkan yang celaka, bukannya dia.”
“Alvin gimana?”
“Gak usah peduli dengannya, biar dia mampus disana.”
“Ayo buruan, entar ada orang yang lihat kita.” Mereka bergegas mengangkat tubuh Tasya, dan memasukkannya di mobil.  Mobil itu pun melaju cepat menuju rumah sakit, sementara Alvin masih terluka parah di dalam mobil.
*****
Kring,,,kring,,,kring,,, telpon tua itu berbunyi beberapa kali. Mendengar itu Bu Reni tergopoh-gopoh mengangakat telpon, entah mengapa perasaanya tiba-tiba risau.
“Hallo, assalamu alaikum.” Sapa Bu Reni.
“Waalaikum salam, apa benar ini dengan keluarga Natasya Anggreni?” Tanya seseorang diujung telpon.
“Iya bener, siapa ya?”
“Kami dari pihak rumah sakit,  ingin memberitahukan bahwa  anak ibu mengalami kecelakaan.”
“Ke-ce-la-ka-an.” Ucap Bu Reni terbata-bata. Jantungnya seakan copot mendengar ungkapan wanita yang menelponnya.
“Iya benar bu, dan kami minta ibu segera kesini, karena keadaan pasien sangat kritis.”
“Iya mbak, tapi ning ngendi?”
“Di rumah sakit harapan bunda, kalau begitu assalamu alaikum ibu.” Jawabnya singkat, dan telpon pun terputus.
Bu Reni mengusap-ngusap dadanya, “Astagfirullah, ndok – ndok ngapa  iki musti terjadi.”
Bu Reni kemudian menelpon Nanda, setelah itu Bu Reni dengan tergopoh-gopoh langsung menuju  rumah sakit.
Sementara itu ditempat latihan basket, Nanda sangat panik.
 “Guys, aku harus cabut sekarang.” Katanya tiba-tiba, setelah menutup handphonenya.
“Kenapa?” Tanya Kintan heran. Kintan adalah teman klub basket Nanda.
“Ada masalah keluarga, gue mesti balik sekarang. Ini gawat.”
“Ya udah, pulang aja kalau memang harus.”
“Thanks ya.” Ucap Nanda terseyum tipis.
“You’re welcome.” Kintan memukul –mukul lengan Nanda.
Nanda pun berlari keluar dengan buru-buru, dan membuat anak basket lain bingung.
“Kenapa lagi tuh siNanda?” Tanya Indri, anggota basket lain.
“Setelah terima telpon dari seseorang, ia terlihat panik. Katanya sih ada masalah keluarga, penting.” Jawab Kintan.
“Owwww.” Indri hanya membulatkan bibirnya.
Dan latihan pun mereka lanjutkan lagi, tanpa kehadiran Nanda.
Hujan yang turun tidak ia pedulikan lagi, demi sahabatnya yang ia sayangi Nanda nekat menerobos hujan , peristiwa alam yang ia benci. Tak perlu menunggu beberapa lama, Nanda langsung menyetop taksi yang tiba-tiba melintas di depannya.
“Pucuk di cinta ulan pun tiba.” Batin Nanda dalam hati.
“Pak kerumah sakit harapan bunda ya.” Ujarnya ketika masuk dalam taksi, tubuhnya yang basah sudah mulai kedinginan.
“Baik mbak.” Jawab supir taksi itu singkat.
Waktu menunjukkan pukul 17.07, Nanda tiba di depan rumah sakit yang cukup besar itu. Untunglah uang sakunya masih cukup untuk membayar ongkos taksi. “Terima kasih ya pak.”
“Iya mbak.”
Nanda turun, dan taksi itu pun langsung pergi. Ia berlari menuju bagian resepsionis rumah sakit.
“Mbak, pasien yang bernama Natasya Anggreni di rawat dikamar berapa ya?” Tanya Nanda cepat, ia seakan dikejar oleh seseorang.
“Oh, pasien Natasya Anggreni yang baru tadi siang masuk, dirawat di kamar 303.”
“Terima kasih mbak kalau begitu.” Nanda lalu buru-buru mencari kamar yang dimaksud, dan tak lama kemudian ia melihat Bu Reni telah duduk di ruang tunggu depan kamar Tasya. Matanya sembab, wajahnya pucat dan lemas.
“Tante.” Panggil Nanda, dan berjalan menuju Bu Reni.
Air mata Bu Reni tumpah seketika, ketika melihat Nanda menghampirinya. Ia memeluk tubuh gadis manis itu, yang ia anggap sebagai anak kandung sendiri.
“Nanda, Tasya Nan, Tasya.”
“Tasya ke-na-pa, tante.” Tanya Nanda terbata-bata.
“Tasya kritis, kepalanya terbentur keras.”
“Terus, apa Tasya dioperasi?”
Bu Reni melepas pelukannya, “Iya, sudah tadi. Dan biayanya itu, sudah ditanggung oleh orang yang membuat Tasya celaka, orang itu bertanggung jawab.”
“Syukurlah.”
“Tapi Tasya kritis Nan, dia masih koma.”
“Kita harus sabar tante, ini cobaan buat kita.”
Bu Reni menghapus air matanya, dan bersandar dikursi.”Ya, sampeyan bener toh ndok.”
Keesokan harinya, kabar baik datang. Tasya sudah sadar dari komanya. Ia membuka matanya pelan-pelan, dan hal pertama yang ia lihat setelah lama tertidur adalah seorang wanita setengah baya dan gadis manis yang berpakaian SMA disampingnya.
“Kalian siapa?” Tanyanya tiba-tiba.
Bu Reni dan Nanda saling bertatapan.
“Panggil dokter Nan, cepat.”
“Iya tante.” Nanda kemudian keluar, dan masuk lagi bersama seorang dokter pria.
Dokter itu memeriksa keadaan Tasya sebentar, kemudian bicara.
“Maaf ibu, karena benturan keras di kepalanya, pasien mengalami amnesia, atau yang lebih dikenal dengan hilang ingatan.”
Bu Reni tersentak kaget, “Aduh, cobaan apalagi ini.”
“Aku siapa, dan dimana aku?” Tanya Tasya lagi.
“Kamu Natasya Anggreni, anak ibu toh ndok.” Bu Reni mengusap kepala Tasya yang masih diperban.
“Natasya Anggreni?” Tanya Tasya.
“Iya Natasya Anggreni, dan aku adalah Nanda, sahabatmu.” Jawab Nanda meyakinkan.
Tasya memejamkan matanya, mencoba mengingat apa yang pernah ia alami. Tapi kepalanya tiba-tiba sakit ketika mengingat kejadian masa lalunya.
“Tolong pasien  jangan dipaksa, untuk mengingat semua kejadian yang pernah terjadi dalam hidupnya, penyembuhan ini butuh proses bertahap. Jika pasien dipaksa mengingat masa lalunya, hal itu akan berdampak buruk, dan bisa-bisa pasien malah melupakan masa lalunya untuk selama-lamanya.” Jelas dokter Rudi panjang lebar.
“Iya dok, kami mengerti.”
                “Untuk sementara waktu, pasien harus menginap selama satu minggu, sampai keadaannya benar-benar membaik.” Sambungnya kemudian.
                “Iya dok.”
                Di lain pihak,
                Alvin terbaring lemas di rumah sakit yang sama, tapi berbeda ruangan. Kamar Alvin terkesan mewah, fasilitas di kamarnya dilengkapi kulkas kecil, TV, AC, dan peralatan pengobatan yang canggih. Berbanding terbalik dengan Tasya yang tinggal di kamar biasa. Keadaan Alvin tidak seburuk Tasya, ia hanya terluka di bagian lengannya. Tapi ia tampak kecewa.
                “Mas, mama mana?” Tanya Alvin lemas, pada Aldi saudara dia satu-satunya.
                Lelaki disampingnya menatap Alvin, wajahnya tampak kecewa. “Kamu gak usah nanyain mama, dia masih diluar negeri.”
                “Dia sudah tau?”
                “Sudahlah Alvin, malahan sejak kamu masuk di rumah sakit ini. Tapi mama, masih saja sibuk dengan urusannya.”
                Alvin menghela napas panjang, ia merasa sedih dan kecewa.
                Denny sahabat dekat Alvin datang menjenguk, ia membawa sekeranjang buah. Di taruhnya buah itu di dekat Alvin.
                “Halo Mas.” Sapanya pada Aldi.
                “Oh Denny, kebetulan kamu datang.”
                Denny tampak bingung, “Kebetulan kenapa ya mas?”
                Aldi beranjak, dan menepuk pundak Denny. “Tolong jagain Alvin, mas mau pulang ke rumah.”
                “Oh tentu mas, om Irwan kan sakit di rumah. Siap mas, aku siap jagain dia.” Denny tampak bersemangat.
                “Kayak aku anak kecil aja.” Mulut Alvin komat-kamit.
                “Ya udah. Vin, mas pulang dulu ya. Den, jagain ya.” Mas Aldi mengambil jas kantornya yang sudah bau semenjak kemarin ia pakai dan belum di cuci karena menemani Alvin sejak semalam. Tubuhnya berbalik dan pergi. Denny duduk di samping Alvin, menatap sahabatnya dengan pandangan yang lain.
                “Kenapa elu lihatin gue segitunya, gue udah sembuh kok. Palingan besok sudah pulang.”
                “Gue heran, kenapa lu bisa kecelakaan ya.”
                “Gue juga gak tau, tapi gue terus teringat deh.”
                Tubuh Denny makin mendekat, “Teringat apa?”
                “Gadis yang menghalangi jalan gue, hingga akhirnya gue kecelakaan.”
                “Jadi gara-gara cewek itu, siapa orangnya?” Tanya Denny antusias.
                “Bukan karena dia, malahan dia yang nyelamatin hidupku. Kalau dia gak ada, pasti lukaku ini sangat parah.” Jelas Alvin.
                “Aneh. Berarti, ada orang yang ingin celakain kamu, dan gadis itu tau.”
                Alvin tiba-tiba teringat sesuatu, “Betul, omongan elu betul.”
                “Jadi besok kita cari orangnya.” Usul Denny.
                “Gak, gue gak tau orangnya. Mukanya gak jelas, waktu itu hujan, jadi kaca mobilku kabur Den.”
                “Kaca mobil elu kabur, kabur ke mana?” Gurau Denny.
                “Gak, gak lucu sama sekali Den, gue serius.” Ketus Alvin.
                “Sorry deh mas bro, bercanda gue. Terus gimana dong caranya kita nemuin dia, salah satunya saksi hanya cewek itu.”
                “Gue juga bingung, gara-gara itu tidurku gak nyenyak. Biar waktu yang akan menjawab, aku yakin Tuhan bersamaku.”
                Denny menepuk pundak Alvin.” Itu pasti.” Ucapnya kemudian.
*****

0 komentar:

 

Semua Akan Indah Pada Waktu-Nya ^_^ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea