Kamis, 29 Januari 2015

Sosok inspirasiku

Diposting oleh Unknown di 20.18 1 komentar

 Tinggal 5 hari lagi ayahku berulang tahun, yaaa ayahku atau yang lebih akrab ku sapa dengan memanggil beliau dengan panggilan "Etta" . Keinginanku pada Tuhan sangat banyak untuk beliau di ulang tahunnya Februari nanti, mendoakannya sehat selalu, mendoakannya selalu panjang umur hingga melihat saya lulus kuliah dan menikah, serta mendoakan beliau selalu terlindungi dalam segala marabahaya. Sebagai seorang anak, saya sangat bangga kepada beliau. Beliau merupakan sosok inspirasiku, beliau selalu mendukung hasil karya yang kubuat... Ettaku itu sangat pintar merakit barang yang berhubungan dengan listrik, menciptakan lampu rumah, menciptakan kapal dari kertas bekas, menciptakan lukisan dari pelepah pisang. Namun, terkadang dengan bakat yang dimiliki ettaku (ayahku) aku pernah meneteskan air mata. Bukan kecewa ataupun bahagia melihat hasil karyanya banyak terpajang di rumah. Namun karena hasil karya itu jarang dibeli oleh orang lain,. Ayahku sangat baik, uangnya terkadang habis untuk membeli bahan - bahan sebagai sarana menyalurkan hobbynya, sehingga jika hasil karyanya selesai ia buat, orang lain yang melihat dan menyukainya, hanya memintanya dengan gratis. padahal ayahku sering berkata padaku, untuk mengupload hasil karyanya ini di jejaring sosial seperti FB atau twitter, hal ini ia lakukan supaya ada yang membeli hasil karyanya sebagai tambahan sedikit untuk membuat karya yang baru. Aku bangga padamu ayah, engkau kadang ikhlas memberikan semua hasil karyamu itu untuk teman - temanmu di sekolah. Ya , kalian harus tahu . Ayahku itu seorang guru di SMAN 1 Majauleng, ia mempunyai banyak teman guru. Ettaku sebagai guru, dan sekaligus sebagai ayah terhebat bagiku. :) Lelaki terhebat yang pernah kutemui



Hasil - Hasil karya ayahku :) Semua buatan jari - jari kuatnya yang sangat hebat....














I love Etta :) :* Selamat Ulang tahun, Panjang Umur, dan Sehat Selalu... Aamiin Yaa Allah






I with you

Diposting oleh Unknown di 17.04 2 komentar
 Trio Angel, hahah :D saya sebut saja julukan kami begitu. Mengapa dan kenapa saya berkata demikian, karena dua orang sahabat di kampus saya ini seperti malaikat yang selalu menemani, membantu, dan bercanda bersama :) Sebenarnya sih masih ada lima malaikat lain yang selalu mendampingi langkahku di kampus. Hanya ingin bersyukur pada-Mu Tuhan, engkau mengirimkan orang - orang yang spesial seperti mereka. :')

Anemia

Diposting oleh Unknown di 02.00 0 komentar


TUGAS INDIVIDU
MAKALAH
“ANEMIA”












 ANDI AYU HAPSARI 
70200113017




JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
 KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul “ANEMIA”. Dalam makalah ini saya  merangkum  seluk beluk penyakit anemia, penjelasan jurnal anemia yang berjudul Asupan Zat Gizi, Status Gizi, Dan Status Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang sampai dengan ayat Al-qur’an yang berhubungan dengan penyakit Anemia. Saya  sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini saya  memiliki banyak keterbatasan ,sehingga jika pembaca menemukan kekurangan atau kekeliruan dengan hati terbuka penulis menerima salam dan kritik yang membangun.
            Akhirnya, saya ucapkan selamat membaca,semoga kita dapat memanfaatkan makalah ini bersama-sama, dengan dasar itikad yang baik untuk mengimplementasikannya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.



                                                                                  Samata, 27 Januari 2015

                                                                                               
                                                                                                            Penulis
                                                                                                          FITRIANI
                                                                                                          KESMAS A
                                                         DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG.................................................................................. 3
B.   RUMUSAN MASALAH............................................................................. 4
C.   TUJUAN MASALAH.................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN
1.    Pengertian Anemia................................................................................... 7
2.    Klasifikasi dan gejala Anemia................................................................. 8
3.    Etiologi Anemia......................................................................................... 12
4.    Gambaran Pathway dan Phatofisiologi Anemia................................. 14
5.    Pencegahan Penyakit Anemia dan metabolism fe............................ 16
6.    Integrasi Ayat Al-qur’an yang berhubungan Anemia........................ 18
BAB III TINJAUAN KASUS
A.   Tujuan dan Hasil penelitian jurnal........................................................ 20
B.   Metode........................................................................................................ 20
C.   Penjelasan table 1,2,3 jurnal ................................................................. 21
D.   Kesimpulan jurnal.................................................................................... 25
BAB IV PENUTUP
A.   KESIMPULAN........................................................................................... 26
B.   SARAN....................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Anemia (dalam bahasa Yunani: ἀναιμία anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dariparu-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel darah merah, etiologi yang mendasari, dan penampakan klinis. Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Istilah anemia mengacu pada suatu kondisi dimana terdapat penurunan konsentrasi hemoglobin, jumlah SDM sirkulasi, atau volume sel darah tanpa plasma hematokrit) dibandingkan dengan nilai-nilai normal. Anemia biasanya dikategorikan menurut penyebab atau morfologi. Untuk mengadopsi tipe anemia, kita harus menentukan mekanisme dasar dari penyakit tersebut. Hamper semua anemia dapat dibagi ke dalam dua bentuk:
a.    Yang disebabkan oleh kerusakan pembentukan SDM dan
b.    Yang disebabkan oleh kehilangan atau kerusakan SDM berlebihan.
Karakteristik morfologi SDM biasanya digunakan dalam klasifikasi anemia. Istilah yang digunakan termasuk ::
a.    Normokrom/normositik: ukuran dan warna SDM normal diberikan oleh konsentrasi hemoglobin.
b.    Mikrositik/hipokrom: penurunan ukuran dan warna SDM disebabkan oleh ketidakadekuatan konsentrasi hemoglobin
c.    Makrositik: SDM ukuran besar
d.    Poikilositosis: variasi bentuk SDM
Perubahan pada ukuran SDM atau kandungan hemoglobin umum terjadi pada anemia yang berhubungan dengan defisiensi besi, folat, atau vitamin B12. Bentuk sel memberikan petunjuk bermanfaat dalam mendiagnosis abnormalitas membrane yang diwariskan, anemia hemolitik, dan hemoglobinopatis.
Seorang pasien dikatakan anemia bila konsentrasi hemoglobin (Hb) nya kurang dari 13,5 g/dL atau hematokrit (Hct) kurang dari 41% pada laki-laki, dan konsentrasi Hb kurang dari 11,5 g/dL atau Hct kurang dari 36% pada perempuan.
Anemia adalah salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat, baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua. Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik.
Remaja adalah aset negara karena merupakan generasi penerus bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa para remaja ini harus mempunyai kualitas yang baik, yaitu memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, dan kesehatan yang prima. Perubahan gaya hidup masyarakat dewasa ini mengakibatkan adanya perubahan pada pergaulan di kalangan re-maja seperti merokok, seks bebas, dan salah sa­tunya yang masih menjadi masalah utama adalah penyalahgunaan narkoba. Jumlah pecandu narkoba di Indonesia berdasarkan survey Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2008 adalah sebanyak 2% dari jumlah penduduk atau sekitar 3.3 juta orang. Seki­tar 1.3 juta orang di antaranya adalah pelajar atau mahasiswa yang masih digolongkan sebagai remaja. Data Direktorat Tindak Pidana Narkoba Maret 2012 menyebutkan jumlah tersangka kasus narkoba ber­dasarkan jenis kelamin tahun 2011 adalah 173 286 orang laki-laki dan 16 026 orang perempuan. Se­mentara itu, jumlah tersangka kasus narkoba pada kelompok remaja tahun 2011 adalah 561 orang pada kelompok umur <16 tahun dan 9 635 orang pada ke-lompok umur 16—19 tahun.
Anemia defisiensi dibedakan menjadi:
·         Anemia defisiensi
·         Anemia aplastic
·         Anemia hemoragik
·         Anemia hemolitik
Anemia hemolitik dibedakan menjadi:
·         gangguan intakorpuskuler : kelainan struktur dinding eritrosit, defisiensi enzim, hemoglobinopatia
·         gangguan ektrakorpuskuler
Anemia post hemoragik bisa karena :
·         kehilangan darah mendadak
·         kehilangan darah menahun



B.   RUMUSAN MASALAH
1.     Apa pengertian penyakit Anemia ?
2.     Bagaimana klasifikasi dan gejala penyakit Anemia ?
3.     Bagaiamana etiologi peyakit  Anemia ?
4.     Bagaimana gambaran Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia ?
5.     Bagaimana pencegahan penyakit Anemia?
6.     Ayat Integrasi ayat Al-Qur’an ?
C.   Tujuan masalah
1.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Anemia
2.    Untuk mengetahui  klasifikasi dan gejala  penyakit Anemia
3.    Untuk mengetahui penyakit etiologi penyakit  Anemia
4.    Untuk mengetahui gambaran Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia.
5.    Untuk mengetahui pencegahan Anemia
6.    Untuk mengetahui ayat Al-Qur’an tentang penyakit Anemia










BAB II
PEMBAHASAN
1.    Pengertian Penyakit Anemia
Anemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) atau sel darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas sel darah merah dalam membawa oksigen (Badan POM, 2011).
Anemia adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar hemoglobin Hb) dan sel darah merah eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Jika kadar hemoglobin kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41% pada pria, maka pria tersebut dikatakan anemia. Demikian pula pada wanita, wanita yang memiliki kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%, maka wanita itu dikatakan anemia. Anemia bukan merupakan penyakit melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat.  Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan ada banyak tipe anemia dengan beragam penyebabnya. (Marilyn E, Doenges, Jakarta, 2002)
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin turun dibawah normal.(Wong, 2003)
2.    KLASIFIKASI ANEMIA
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:
a.    Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlash sel darah merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
1.    Anemia aplastik
Penyebab:
·         Agen neoplastik/sitoplastik
·         Terapi radiasi
·         Antibiotic tertentu
·         Obat anti konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutosan
·         Benzene
Infeksi virus (khususnya hepatitis)
                                              
Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang
             Kelainan sel induk (gangguan pembelahan , replikasi, deferensiasi) Hambatan humoral/seluler
                                                         
Gangguan sel induk di sumsum tulang

                Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai
 

                                                                        PANSITOPENIA

Anmemia aplastik
Gejala-gelaja
·         Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
·         Defisiensi  trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna, perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
·         Morfologis : anemia normositik normokromik
2.    Anemia pada ginjal
Gejala-gejala:
·         Nitrogen  urea darah  (BUN) lebih dari 10 mg/dl
·         Hematokrit turun 20-30%
·         Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi
Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritopotin
3.    Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normostik normokromik (sel darah merah dengan ukuran warna yang normal). Kelainan ini meliputi artristik  rematoid , abses paru, osteomilitis, tuberkolosis, dan berbagai keganasan.
4.    Anemia defisiensi besi
Penyebab :
·         Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi
·         Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
·         Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varises oesophagus, hemoroid)
gangguan eritropoesis
Absorbsi besi dari usus kurang
sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin
Anemia defisiensi besi
Gejala-gejalanya:
  Atropi papilla lidah
  Lidah pucat, merah, meradang
  Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
  Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
5.           Anemia megaloblastik
Penyebab:
  Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat
  Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor
  Infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.
Sintesis DNA terganggu
Gangguan maturasi inti sel darah merah
Megaloblas (eritroblas yang besar)
Eritrosit immatur dan hipofungsi

6.      Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh destruksi sel darah merah:
  Pengaruh obat-obatan tertentu
  Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia limfositik kronik
  Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
  Proses autoimun
  Reaksi transfusi
Malaria
Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit
Antigesn pada eritrosit berubah
Dianggap benda asing oleh tubuh
sel darah merah dihancurkan oleh limposit
Anemia hemolisis




3.    ETIOLOGI ANEMIA
1.  Hemolisis (eritrosit mudah pecah)
2.   Perdarahan
3.  Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)
4.  Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi  defisiensi besi, folic acid, piridoksin, vitamin C dan copper
Menurut Badan POM (2011), Penyebab anemia yaitu:
a.    Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, asam folat, vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
b.    Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi rawan terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya banyak dan dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.
c.    Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap zat besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.
d.    Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan terus-menerus di saluran pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu dapat menyebabkan anemia.
e.    Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perdarahan lambung (aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat menyebabkan masalah dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil KB, antiarthritis, dll).
f.     Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi). Ini dapat menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan vitamin B12.
g.    Penyakit radang kronis seperti lupus, arthritis rematik, penyakit ginjal, masalah pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker dan penyakit lainnya dapat menyebabkan anemia karena mempengaruhi proses pembentukan sel darah merah.
h.    Pada anak-anak, anemia dapat terjadi karena infeksi cacing tambang, malaria, atau disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.

4.    GAMBARAN PATHWAY dan PATHOFISIOLOGI ANEMIA
A. Gambaran Pathway (Patrick Davey, 2002)


            PATHOFISIOLOGI
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
Anemia
viskositas darah menurun
resistensi aliran darah perifer
penurunan transport O2 ke jaringan
hipoksia, pucat, lemah
beban jantung meningkat
kerja jantung meningkat
payah jantung


5.    Pencegahan Penyakit Anemia
Banyak jenis anemia tidak dapat dicegah. Tapi anda dapat membantu menghindari iron deficiency anemia dan vitamin deficiency anemias dengan makanan sehat yang mengandung:
 Zat besi
Dapat ditemukan pada daging. Jenis lain adalah kacang, sayuran berwana hijau gelap, buah yang dikeringkan, dan lain-lain.
 Folat
Dapat ditemukan pada jeruk, pisang, sayuran berwarna hijau gelap, kacang-kavangan, sereal dan pasta.
 Vitamin B-12
Vitamin ini banyak terdapat pada daging dan susu.
 Vitamin C
Vitamin C membantu penyerapan zat besi. Makanan yang mengandung vitamin C antara lain jeruk, melon dan buah beri. Makanan yang mengandung zat besi penting untuk mereka yang membutuhkan zat besi tinggi seperti pada anak-anak, wanita menstruasi dan wanita hamil. Zat besi yang cukup juga penting untuk bayi, vegetarian dan atlet.
Metabolisme Fe


Besi diabsorsi dalam usus halus (duodenum dan yeyenum) proksimal. Besi yang terkandung dalam makanan ketika dalam lambung dibebaskan menjadi ion fero dengan bantuan asam lambung (HCL). Kemudian masuk ke usus halus dirubah menjadi ion fero dengan pengaruh alkali, kemudian ion fero diabsorpsi, sebagian disimpan sebagai senyawa feritin dan sebagian lagi masuk keperedaran darah berikatan dengan protein (transferin) yang akan digunakan kembali untuk sintesa hemoglobin. Sebagian dari transferin yang tidak terpakai disimpan sebagai labile iron pool. Penyerapan ion fero dipermudah dengan adanya vitamin atau fruktosa, tetapi akan terhambat dengan fosfat, oksalat, susu, antasid

6.    Intergrasi Ayat Al-Qur’an
Terjemahan :
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat ini merujuk pada resipienatau penerima darah adalah orang yang benar-benar dalam keadaan yang kritis. Dan kita juga dilarang untuk memperjual-belikan darah tersebut. Sedangkan bagi si pendonor beliau mengutip salah satu hadits Nabi MuhammadSAW yang mengandung makna: “Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” yang terakhir tentang siapa yangmemberikan rujukan, beliau mengutip Hadist Nabi yang diriwayatkan Al-Bukhari yangmaknanya kurang lebih Rasulullah menyewa seorang penunjuk jalan yang pada saat itumasih memeluk agama orang kafir quraisy. Ini berarti tidak mengapa jika yangmemberikan rujukan adalah seorang dokter yang bukan seorang muslim jika memangtidak ada dokter yang muslim.  Kemajuan ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi darisejumlah teks-teks agama, salah satunya adalah Quran dan Hadits. Pada sebuah tulisandisebutkan mengenai deskripsi yang akurat tentang struktur anatomi, prosedur bedah,karakteristik fisiologi dan pengobatan medis. Paper ini ditulis sebagai review atau rangkumanuntuk menyajikan secara akurat kontribusi Al Quran dan Hadits dengan fokus khusus padasistem jantung. Sistem jantung ini sangat erat kaitannya dengan sistem peredaran darah.Mungkin penting untuk diketahui disini, bahwa kata " heart " dalam duniakedokteran berarti jantung, bukan hati. Adapun "hati" dalam kedokteran adalah liver . Karenaitu kata qalb dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi " heart"  yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.Mengenai sistem jantung, darah dan sirkulasinya, terdapat sebuah ayat Al Quran yangmenyatakan bahwa













BAB III
TINJAUAN  KASUS
JURNAL ASUPAN ZAT GIZI, STATUS GIZI, DAN STATUS ANEMIA PADA REMAJA LAKI-LAKI PENGGUNA NARKOBA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK PRIA TANGERANGISSN 1978 - 1059Jurnal Gizi dan Pangan, Maret 2014, 9(1): 23—28

A.   Tujuan  dan Hasil penelitian jurnal
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis asupan energi dan zat gizi, status gizi, dan status anemia remaja laki-laki pengguna narkoba di lembaga pemasyarakatan (LAPAS) anak pria kelas IIA Kota Tangerang. Hasil analisis deskriptif menunjukkan tingkat kecukupan energi (35.0%) dan protein (27.5%) subjek berada pada kategori defisit berat. Rata-rata energi dari makanan yang disediakan LAPAS belum memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Tingkat kecukupan zat besi subjek berada pada kategori cukup (82.5%) dan tingkat kecukupan vitamin C subjek berada pada kategori kurang (100.0%). Subjek berada dalam kategori status gizi normal (85.0%) dan mengalami anemia (57.5%).
B.   Metode
Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilaksa-nakan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Kelas IIA, Kota Tangerang dan berlangsung selama dua bu­lan, yaitu dari bulan Juni—Juli 2013.
Jumlah dan Cara Penarikan Subjek
Subjek adalah remaja laki-laki pengguna narkoba. Kriteria inklusi subjek adalah dipenjara karena memakai narkoba, minimal berada dalam lembaga pemasyarakatan selama tiga bulan, dalam keadaan sehat, tidak memiliki penyakit kronis, dan bersedia dijadikan subjek penelitian. Jumlah subjek sebanyak 40 orang dan dipilih secara purposive.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah primer dan sekunder. Data primer yaitu karakteristik subjek yang diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner. Data frekuensi konsumsi pangan dikumpulkan meng­gunakan kuesioner Food Frequency. Data konsumsi makanan dan minuman subjek diperoleh dengan cara menimbang (food weighing) dan wawancara menggunakan kuesioner Food Recall. Data keterse­diaan makanan dan minuman diperoleh dengan cara menimbang (food weighing). Data berat badan dan tinggi badan diperoleh melalui pengukuran menggu­nakan timbangan injak dan microtoise. Data status anemia diperoleh melalui pengukuran menggunakan metode Cyanmethemoglobin.
Pengolahan dan Analisis Data
Data status gizi dikelompokkan menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) berdasar­kan Kemenkes (2010) untuk remaja 15—18 tahun sedangkan untuk remaja 19—20 tahun mengguna­kan IMT berdasarkan WHO (2004). Kriteria anemia menurut WHO (2001) untuk remaja laki-laki adalah <13 g/dl.
C.    TABEL 1,2,3 Pada Jurnal
Rata-rata Asupan dan Tingkat Kecukupan  Energi dan Zat Gizi

      Energi & Zat Gizi            Rata-rata Asupan              Rata-rata  %AKG
                        Energi                                    1 959 ± 584 kkal                                               79.0%
                        Protein                                     51 ± 16.2 g                                                         84.0%
                                Zat Besi                                 18 ± 6.7 mg                                                          137.0%
                                Vitamin C                                              20 ± 14.1 mg                                        24.0%

Tabel 1 menunjukkan rata-rata asupan energi dan zat gizi subjek dan persentase AKG sub­jek. Rata-rata asupan energi subjek baru memenuhi 79.0% kebutuhan subjek sehari, sedangkan rata-rata asupan protein subjek sedikit lebih tinggi yaitu me­menuhi 84.0% kebutuhan subjek sehari. Rata-rata asupan zat besi subjek cukup tinggi yaitu memenuhi 137.0% kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata asupan zat besi, rata-rata asupan vitamin C subjek hanya memenuhi 24.0% kebutuhan subjek. Hal ini menunjukkan bahwa asupan energi dan pro­tein subjek belum cukup memenuhi kebutuhannya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Dwiningsih dan Pramono (2013) yang menyatakan bahwa rata-rata asupan energi dan protein remaja masih tergo­long dalam kategori kurang. Asupan zat besi subjek sudah cukup memenuhi kebutuhannya, dan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi kebutuhannya. Tingkat kecukupan energi dan zat gizi diukur dengan cara membandingkan konsumsi energi dan zat gizi subjek dengan kebutuhan energi dan zat gizi subjek.

TABEL 2 Sebaran Subjek berdasarkan Tingkat Kecukupan Energi dan Protein

                                Tingkat   Energi                           Protein
                         Kecukupan n                    %                             n                                       %
                Defisit Berat               14                 35.0                          13                   27.5
               Defisit sedang            10                 20.0                          6                    17.5
               Defisit ringan               3                 12.5                           8                     20.0
               Normal                         12                30.0                           7                     17.5
               Total                              40               100                            40                   100

Tabel 2 menunjukkan sebaran subjek berdasarkan tingkat kecukupan energi dan protein. Tingkat kecukupan energi subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat (35.0%). Tingkat kecu­kupan protein subjek pun mayoritas berada pada kategori defisit berat (27.5%). Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori cu­kup sebesar 82.5%. Sebaliknya, tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya (100.0%) berada pada kategori kurang. Sebagian besar tingkat kecukupan energi dan protein subjek yang mengalami defisit berat ini di­duga karena makanan yang disediakan oleh LAPAS tidak dikonsumsi sama sekali ataupun hanya sepa­ruh. Rasa dan kualitas bahan makanan yang kurang diduga menjadi faktor utama penyebabnya. Ting­kat kecukupan zat besi yang mayoritas termasuk dalam kategori cukup ini diduga karena subjek sering dan banyak mengonsumsi pangan yang menjadi sumber zat besi. Tingkat kecukupan vitamin C yang semuanya berada pada kategori kurang diduga ka-rena subjek hanya mengonsumsi buah pisang yang kurang mengandung vitamin C. Sayuran yang dise­diakan oleh LAPAS banyak yang mengandung vitamin C tinggi seperti kol, namun mayoritas subjek tidak mengonsumsi sayuran tersebut karena rasa yang kurang. Rosidi dan Sulistyowati (2012), menyatakan kurangnya mengonsumsi sayuran dapat mengakibat­kan kekurangan salah satu atau lebih vitamin dan mineral.

TABEL 3 Rata-rata Energi dan Zat Gizi yang tersedia  dan Tingkat Ketersediaan Makanan yang   Disajikan oleh LAPAS


 Energi & zat gizi                    Rata-rata                  Rata-rata % AKG
Energi                                    1973 ±  40 kkal                                  78.0%
Protein                                               55.8 ±  4.5 g                          92.0%
Zat Besi                                 22.8 ±  3.5 mg                       172.0%
Vitamin C                              39.2 ±  3.5 mg                       47.0%

Tabel 3 juga menunjukkan rata-rata energi dan zat gizi dari makanan dan minuman yang disa­jikan oleh LAPAS dan perbandingannya dengan AKG subjek. Rata-rata energi hanya memenuhi 78.0% ke­butuhan subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein memenuhi 92.0% kebutuhan subjek dalam sehari. Rata-rata zat besi cukup tinggi yaitu me­menuhi 172.0% kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata zat besi, rata-rata vitamin C hanya memenuhi 47.0% kebutuhan subjek. Hal ini menun­jukkan bahwa energi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS belum cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan protein sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek. Jika dilihat dari kebu­tuhan subjek, zat besi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS memenuhi lebih dari ke­butuhan subjek, sedangkan vitamin C masih kurang memenuhi kebutuhan subjek.

D.    Kesimpulan Jurnal
Asupan energi dan protein subjek belum cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecu­kupan energi dan protein subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebu­tuhan subjek. Sebagian besar subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar sub­jek pun mengalami anemia.








BAB IV
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Anemia (dalam bahasa Yunani: ἀναιμία anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dariparu-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel darah merah, etiologi yang mendasari, dan penampakan klinis. Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Asupan energi dan protein subjek belum cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecu­kupan energi dan protein subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebu­tuhan subjek. Sebagian besar subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar sub­jek pun mengalami anemia.
B.   SARAN
Berdasarkan hasil kesimpulan diatas, maka disarankan :
Makanan LAPAS seharusnya mencukupi kebutuhan subjek,  energi dan protein harus seimbang dalam makanan di LAPAS untuk pengguna narkoba agar kebutuhan energi dan protein tercukupi.


















DAFTAR PUSTAKA

Arisman,MB.2010.Gizi Dalam Daur Kehidupan.Jakarta:Buku Kedokteran EGC

Atikah P, Erna K. 2011.  Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta: Muha Medika.

Indra, wulandari yettik. 2013. Prinsip Prinsip Dasar Ahli Gizi. Jakarta Timur: Dunia cerdas

Widyastuti,Agustin,Hardiyanto.(Peneterjemah).2008.GiziKesehatan Masyarakat.Jakarta:

Dewi, Pujiastuti N, Ibnu Fajar. 2013. Ilmu Gizi untuk praktisi kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu Ruko Jambusari No.7 A


Utami Wahyuningsih1*, Ali Khomsan1, dan Karina Rahmadia Ekawidyani1. 2014. Asupan Zat Gizi, Status Gizi, Dan Status Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangera. Vol 9 number 1 Maret 2014 diambil dari http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/8259 (27 November 2014)


TUGAS INDIVIDU
MAKALAH
“ANEMIA”


FITRIANI
70200113016

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
 KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul “ANEMIA”. Dalam makalah ini saya  merangkum  seluk beluk penyakit anemia, penjelasan jurnal anemia yang berjudul Asupan Zat Gizi, Status Gizi, Dan Status Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang sampai dengan ayat Al-qur’an yang berhubungan dengan penyakit Anemia. Saya  sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini saya  memiliki banyak keterbatasan ,sehingga jika pembaca menemukan kekurangan atau kekeliruan dengan hati terbuka penulis menerima salam dan kritik yang membangun.
            Akhirnya, saya ucapkan selamat membaca,semoga kita dapat memanfaatkan makalah ini bersama-sama, dengan dasar itikad yang baik untuk mengimplementasikannya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.



                                                                                  Samata, 27 Januari 2015

                                                                                               
                                                                                                            Penulis
                                                                                                          FITRIANI
                                                                                                          KESMAS A
                                                         DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG.................................................................................. 3
B.   RUMUSAN MASALAH............................................................................. 4
C.   TUJUAN MASALAH.................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN
1.    Pengertian Anemia................................................................................... 7
2.    Klasifikasi dan gejala Anemia................................................................. 8
3.    Etiologi Anemia......................................................................................... 12
4.    Gambaran Pathway dan Phatofisiologi Anemia................................. 14
5.    Pencegahan Penyakit Anemia dan metabolism fe............................ 16
6.    Integrasi Ayat Al-qur’an yang berhubungan Anemia........................ 18
BAB III TINJAUAN KASUS
A.   Tujuan dan Hasil penelitian jurnal........................................................ 20
B.   Metode........................................................................................................ 20
C.   Penjelasan table 1,2,3 jurnal ................................................................. 21
D.   Kesimpulan jurnal.................................................................................... 25
BAB IV PENUTUP
A.   KESIMPULAN........................................................................................... 26
B.   SARAN....................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Anemia (dalam bahasa Yunani: ἀναιμία anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dariparu-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel darah merah, etiologi yang mendasari, dan penampakan klinis. Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Istilah anemia mengacu pada suatu kondisi dimana terdapat penurunan konsentrasi hemoglobin, jumlah SDM sirkulasi, atau volume sel darah tanpa plasma hematokrit) dibandingkan dengan nilai-nilai normal. Anemia biasanya dikategorikan menurut penyebab atau morfologi. Untuk mengadopsi tipe anemia, kita harus menentukan mekanisme dasar dari penyakit tersebut. Hamper semua anemia dapat dibagi ke dalam dua bentuk:
a.    Yang disebabkan oleh kerusakan pembentukan SDM dan
b.    Yang disebabkan oleh kehilangan atau kerusakan SDM berlebihan.
Karakteristik morfologi SDM biasanya digunakan dalam klasifikasi anemia. Istilah yang digunakan termasuk ::
a.    Normokrom/normositik: ukuran dan warna SDM normal diberikan oleh konsentrasi hemoglobin.
b.    Mikrositik/hipokrom: penurunan ukuran dan warna SDM disebabkan oleh ketidakadekuatan konsentrasi hemoglobin
c.    Makrositik: SDM ukuran besar
d.    Poikilositosis: variasi bentuk SDM
Perubahan pada ukuran SDM atau kandungan hemoglobin umum terjadi pada anemia yang berhubungan dengan defisiensi besi, folat, atau vitamin B12. Bentuk sel memberikan petunjuk bermanfaat dalam mendiagnosis abnormalitas membrane yang diwariskan, anemia hemolitik, dan hemoglobinopatis.
Seorang pasien dikatakan anemia bila konsentrasi hemoglobin (Hb) nya kurang dari 13,5 g/dL atau hematokrit (Hct) kurang dari 41% pada laki-laki, dan konsentrasi Hb kurang dari 11,5 g/dL atau Hct kurang dari 36% pada perempuan.
Anemia adalah salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat, baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua. Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik.
Remaja adalah aset negara karena merupakan generasi penerus bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa para remaja ini harus mempunyai kualitas yang baik, yaitu memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, dan kesehatan yang prima. Perubahan gaya hidup masyarakat dewasa ini mengakibatkan adanya perubahan pada pergaulan di kalangan re-maja seperti merokok, seks bebas, dan salah sa­tunya yang masih menjadi masalah utama adalah penyalahgunaan narkoba. Jumlah pecandu narkoba di Indonesia berdasarkan survey Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2008 adalah sebanyak 2% dari jumlah penduduk atau sekitar 3.3 juta orang. Seki­tar 1.3 juta orang di antaranya adalah pelajar atau mahasiswa yang masih digolongkan sebagai remaja. Data Direktorat Tindak Pidana Narkoba Maret 2012 menyebutkan jumlah tersangka kasus narkoba ber­dasarkan jenis kelamin tahun 2011 adalah 173 286 orang laki-laki dan 16 026 orang perempuan. Se­mentara itu, jumlah tersangka kasus narkoba pada kelompok remaja tahun 2011 adalah 561 orang pada kelompok umur <16 tahun dan 9 635 orang pada ke-lompok umur 16—19 tahun.
Anemia defisiensi dibedakan menjadi:
·         Anemia defisiensi
·         Anemia aplastic
·         Anemia hemoragik
·         Anemia hemolitik
Anemia hemolitik dibedakan menjadi:
·         gangguan intakorpuskuler : kelainan struktur dinding eritrosit, defisiensi enzim, hemoglobinopatia
·         gangguan ektrakorpuskuler
Anemia post hemoragik bisa karena :
·         kehilangan darah mendadak
·         kehilangan darah menahun



B.   RUMUSAN MASALAH
1.     Apa pengertian penyakit Anemia ?
2.     Bagaimana klasifikasi dan gejala penyakit Anemia ?
3.     Bagaiamana etiologi peyakit  Anemia ?
4.     Bagaimana gambaran Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia ?
5.     Bagaimana pencegahan penyakit Anemia?
6.     Ayat Integrasi ayat Al-Qur’an ?
C.   Tujuan masalah
1.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Anemia
2.    Untuk mengetahui  klasifikasi dan gejala  penyakit Anemia
3.    Untuk mengetahui penyakit etiologi penyakit  Anemia
4.    Untuk mengetahui gambaran Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia.
5.    Untuk mengetahui pencegahan Anemia
6.    Untuk mengetahui ayat Al-Qur’an tentang penyakit Anemia










BAB II
PEMBAHASAN
1.    Pengertian Penyakit Anemia
Anemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) atau sel darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas sel darah merah dalam membawa oksigen (Badan POM, 2011).
Anemia adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar hemoglobin Hb) dan sel darah merah eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Jika kadar hemoglobin kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41% pada pria, maka pria tersebut dikatakan anemia. Demikian pula pada wanita, wanita yang memiliki kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%, maka wanita itu dikatakan anemia. Anemia bukan merupakan penyakit melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat.  Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan ada banyak tipe anemia dengan beragam penyebabnya. (Marilyn E, Doenges, Jakarta, 2002)
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin turun dibawah normal.(Wong, 2003)
2.    KLASIFIKASI ANEMIA
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:
a.    Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlash sel darah merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
1.    Anemia aplastik
Penyebab:
·         Agen neoplastik/sitoplastik
·         Terapi radiasi
·         Antibiotic tertentu
·         Obat anti konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutosan
·         Benzene
Infeksi virus (khususnya hepatitis)
                                              
Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang
             Kelainan sel induk (gangguan pembelahan , replikasi, deferensiasi) Hambatan humoral/seluler
                                                         
Gangguan sel induk di sumsum tulang

                Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai
 

                                                                        PANSITOPENIA

Anmemia aplastik
Gejala-gelaja
·         Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
·         Defisiensi  trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna, perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
·         Morfologis : anemia normositik normokromik
2.    Anemia pada ginjal
Gejala-gejala:
·         Nitrogen  urea darah  (BUN) lebih dari 10 mg/dl
·         Hematokrit turun 20-30%
·         Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi
Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritopotin
3.    Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normostik normokromik (sel darah merah dengan ukuran warna yang normal). Kelainan ini meliputi artristik  rematoid , abses paru, osteomilitis, tuberkolosis, dan berbagai keganasan.
4.    Anemia defisiensi besi
Penyebab :
·         Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi
·         Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
·         Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varises oesophagus, hemoroid)
gangguan eritropoesis
Absorbsi besi dari usus kurang
sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin
Anemia defisiensi besi
Gejala-gejalanya:
  Atropi papilla lidah
  Lidah pucat, merah, meradang
  Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
  Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
5.           Anemia megaloblastik
Penyebab:
  Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat
  Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor
  Infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.
Sintesis DNA terganggu
Gangguan maturasi inti sel darah merah
Megaloblas (eritroblas yang besar)
Eritrosit immatur dan hipofungsi

6.      Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh destruksi sel darah merah:
  Pengaruh obat-obatan tertentu
  Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia limfositik kronik
  Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
  Proses autoimun
  Reaksi transfusi
Malaria
Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit
Antigesn pada eritrosit berubah
Dianggap benda asing oleh tubuh
sel darah merah dihancurkan oleh limposit
Anemia hemolisis




3.    ETIOLOGI ANEMIA
1.  Hemolisis (eritrosit mudah pecah)
2.   Perdarahan
3.  Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)
4.  Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi  defisiensi besi, folic acid, piridoksin, vitamin C dan copper
Menurut Badan POM (2011), Penyebab anemia yaitu:
a.    Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, asam folat, vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
b.    Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi rawan terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya banyak dan dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.
c.    Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap zat besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.
d.    Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan terus-menerus di saluran pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu dapat menyebabkan anemia.
e.    Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perdarahan lambung (aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat menyebabkan masalah dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil KB, antiarthritis, dll).
f.     Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi). Ini dapat menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan vitamin B12.
g.    Penyakit radang kronis seperti lupus, arthritis rematik, penyakit ginjal, masalah pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker dan penyakit lainnya dapat menyebabkan anemia karena mempengaruhi proses pembentukan sel darah merah.
h.    Pada anak-anak, anemia dapat terjadi karena infeksi cacing tambang, malaria, atau disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.

4.    GAMBARAN PATHWAY dan PATHOFISIOLOGI ANEMIA
A. Gambaran Pathway (Patrick Davey, 2002)


            PATHOFISIOLOGI
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
Anemia
viskositas darah menurun
resistensi aliran darah perifer
penurunan transport O2 ke jaringan
hipoksia, pucat, lemah
beban jantung meningkat
kerja jantung meningkat
payah jantung


5.    Pencegahan Penyakit Anemia
Banyak jenis anemia tidak dapat dicegah. Tapi anda dapat membantu menghindari iron deficiency anemia dan vitamin deficiency anemias dengan makanan sehat yang mengandung:
 Zat besi
Dapat ditemukan pada daging. Jenis lain adalah kacang, sayuran berwana hijau gelap, buah yang dikeringkan, dan lain-lain.
 Folat
Dapat ditemukan pada jeruk, pisang, sayuran berwarna hijau gelap, kacang-kavangan, sereal dan pasta.
 Vitamin B-12
Vitamin ini banyak terdapat pada daging dan susu.
 Vitamin C
Vitamin C membantu penyerapan zat besi. Makanan yang mengandung vitamin C antara lain jeruk, melon dan buah beri. Makanan yang mengandung zat besi penting untuk mereka yang membutuhkan zat besi tinggi seperti pada anak-anak, wanita menstruasi dan wanita hamil. Zat besi yang cukup juga penting untuk bayi, vegetarian dan atlet.
Metabolisme Fe


Besi diabsorsi dalam usus halus (duodenum dan yeyenum) proksimal. Besi yang terkandung dalam makanan ketika dalam lambung dibebaskan menjadi ion fero dengan bantuan asam lambung (HCL). Kemudian masuk ke usus halus dirubah menjadi ion fero dengan pengaruh alkali, kemudian ion fero diabsorpsi, sebagian disimpan sebagai senyawa feritin dan sebagian lagi masuk keperedaran darah berikatan dengan protein (transferin) yang akan digunakan kembali untuk sintesa hemoglobin. Sebagian dari transferin yang tidak terpakai disimpan sebagai labile iron pool. Penyerapan ion fero dipermudah dengan adanya vitamin atau fruktosa, tetapi akan terhambat dengan fosfat, oksalat, susu, antasid

6.    Intergrasi Ayat Al-Qur’an
Terjemahan :
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat ini merujuk pada resipienatau penerima darah adalah orang yang benar-benar dalam keadaan yang kritis. Dan kita juga dilarang untuk memperjual-belikan darah tersebut. Sedangkan bagi si pendonor beliau mengutip salah satu hadits Nabi MuhammadSAW yang mengandung makna: “Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” yang terakhir tentang siapa yangmemberikan rujukan, beliau mengutip Hadist Nabi yang diriwayatkan Al-Bukhari yangmaknanya kurang lebih Rasulullah menyewa seorang penunjuk jalan yang pada saat itumasih memeluk agama orang kafir quraisy. Ini berarti tidak mengapa jika yangmemberikan rujukan adalah seorang dokter yang bukan seorang muslim jika memangtidak ada dokter yang muslim.  Kemajuan ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi darisejumlah teks-teks agama, salah satunya adalah Quran dan Hadits. Pada sebuah tulisandisebutkan mengenai deskripsi yang akurat tentang struktur anatomi, prosedur bedah,karakteristik fisiologi dan pengobatan medis. Paper ini ditulis sebagai review atau rangkumanuntuk menyajikan secara akurat kontribusi Al Quran dan Hadits dengan fokus khusus padasistem jantung. Sistem jantung ini sangat erat kaitannya dengan sistem peredaran darah.Mungkin penting untuk diketahui disini, bahwa kata " heart " dalam duniakedokteran berarti jantung, bukan hati. Adapun "hati" dalam kedokteran adalah liver . Karenaitu kata qalb dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi " heart"  yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.Mengenai sistem jantung, darah dan sirkulasinya, terdapat sebuah ayat Al Quran yangmenyatakan bahwa













BAB III
TINJAUAN  KASUS
JURNAL ASUPAN ZAT GIZI, STATUS GIZI, DAN STATUS ANEMIA PADA REMAJA LAKI-LAKI PENGGUNA NARKOBA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK PRIA TANGERANGISSN 1978 - 1059Jurnal Gizi dan Pangan, Maret 2014, 9(1): 23—28

A.   Tujuan  dan Hasil penelitian jurnal
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis asupan energi dan zat gizi, status gizi, dan status anemia remaja laki-laki pengguna narkoba di lembaga pemasyarakatan (LAPAS) anak pria kelas IIA Kota Tangerang. Hasil analisis deskriptif menunjukkan tingkat kecukupan energi (35.0%) dan protein (27.5%) subjek berada pada kategori defisit berat. Rata-rata energi dari makanan yang disediakan LAPAS belum memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Tingkat kecukupan zat besi subjek berada pada kategori cukup (82.5%) dan tingkat kecukupan vitamin C subjek berada pada kategori kurang (100.0%). Subjek berada dalam kategori status gizi normal (85.0%) dan mengalami anemia (57.5%).
B.   Metode
Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilaksa-nakan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Kelas IIA, Kota Tangerang dan berlangsung selama dua bu­lan, yaitu dari bulan Juni—Juli 2013.
Jumlah dan Cara Penarikan Subjek
Subjek adalah remaja laki-laki pengguna narkoba. Kriteria inklusi subjek adalah dipenjara karena memakai narkoba, minimal berada dalam lembaga pemasyarakatan selama tiga bulan, dalam keadaan sehat, tidak memiliki penyakit kronis, dan bersedia dijadikan subjek penelitian. Jumlah subjek sebanyak 40 orang dan dipilih secara purposive.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah primer dan sekunder. Data primer yaitu karakteristik subjek yang diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner. Data frekuensi konsumsi pangan dikumpulkan meng­gunakan kuesioner Food Frequency. Data konsumsi makanan dan minuman subjek diperoleh dengan cara menimbang (food weighing) dan wawancara menggunakan kuesioner Food Recall. Data keterse­diaan makanan dan minuman diperoleh dengan cara menimbang (food weighing). Data berat badan dan tinggi badan diperoleh melalui pengukuran menggu­nakan timbangan injak dan microtoise. Data status anemia diperoleh melalui pengukuran menggunakan metode Cyanmethemoglobin.
Pengolahan dan Analisis Data
Data status gizi dikelompokkan menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) berdasar­kan Kemenkes (2010) untuk remaja 15—18 tahun sedangkan untuk remaja 19—20 tahun mengguna­kan IMT berdasarkan WHO (2004). Kriteria anemia menurut WHO (2001) untuk remaja laki-laki adalah <13 g/dl.
C.    TABEL 1,2,3 Pada Jurnal
Rata-rata Asupan dan Tingkat Kecukupan  Energi dan Zat Gizi

      Energi & Zat Gizi            Rata-rata Asupan              Rata-rata  %AKG
                        Energi                                    1 959 ± 584 kkal                                               79.0%
                        Protein                                     51 ± 16.2 g                                                         84.0%
                                Zat Besi                                 18 ± 6.7 mg                                                          137.0%
                                Vitamin C                                              20 ± 14.1 mg                                        24.0%

Tabel 1 menunjukkan rata-rata asupan energi dan zat gizi subjek dan persentase AKG sub­jek. Rata-rata asupan energi subjek baru memenuhi 79.0% kebutuhan subjek sehari, sedangkan rata-rata asupan protein subjek sedikit lebih tinggi yaitu me­menuhi 84.0% kebutuhan subjek sehari. Rata-rata asupan zat besi subjek cukup tinggi yaitu memenuhi 137.0% kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata asupan zat besi, rata-rata asupan vitamin C subjek hanya memenuhi 24.0% kebutuhan subjek. Hal ini menunjukkan bahwa asupan energi dan pro­tein subjek belum cukup memenuhi kebutuhannya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Dwiningsih dan Pramono (2013) yang menyatakan bahwa rata-rata asupan energi dan protein remaja masih tergo­long dalam kategori kurang. Asupan zat besi subjek sudah cukup memenuhi kebutuhannya, dan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi kebutuhannya. Tingkat kecukupan energi dan zat gizi diukur dengan cara membandingkan konsumsi energi dan zat gizi subjek dengan kebutuhan energi dan zat gizi subjek.

TABEL 2 Sebaran Subjek berdasarkan Tingkat Kecukupan Energi dan Protein

                                Tingkat   Energi                           Protein
                         Kecukupan n                    %                             n                                       %
                Defisit Berat               14                 35.0                          13                   27.5
               Defisit sedang            10                 20.0                          6                    17.5
               Defisit ringan               3                 12.5                           8                     20.0
               Normal                         12                30.0                           7                     17.5
               Total                              40               100                            40                   100

Tabel 2 menunjukkan sebaran subjek berdasarkan tingkat kecukupan energi dan protein. Tingkat kecukupan energi subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat (35.0%). Tingkat kecu­kupan protein subjek pun mayoritas berada pada kategori defisit berat (27.5%). Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori cu­kup sebesar 82.5%. Sebaliknya, tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya (100.0%) berada pada kategori kurang. Sebagian besar tingkat kecukupan energi dan protein subjek yang mengalami defisit berat ini di­duga karena makanan yang disediakan oleh LAPAS tidak dikonsumsi sama sekali ataupun hanya sepa­ruh. Rasa dan kualitas bahan makanan yang kurang diduga menjadi faktor utama penyebabnya. Ting­kat kecukupan zat besi yang mayoritas termasuk dalam kategori cukup ini diduga karena subjek sering dan banyak mengonsumsi pangan yang menjadi sumber zat besi. Tingkat kecukupan vitamin C yang semuanya berada pada kategori kurang diduga ka-rena subjek hanya mengonsumsi buah pisang yang kurang mengandung vitamin C. Sayuran yang dise­diakan oleh LAPAS banyak yang mengandung vitamin C tinggi seperti kol, namun mayoritas subjek tidak mengonsumsi sayuran tersebut karena rasa yang kurang. Rosidi dan Sulistyowati (2012), menyatakan kurangnya mengonsumsi sayuran dapat mengakibat­kan kekurangan salah satu atau lebih vitamin dan mineral.

TABEL 3 Rata-rata Energi dan Zat Gizi yang tersedia  dan Tingkat Ketersediaan Makanan yang   Disajikan oleh LAPAS


 Energi & zat gizi                    Rata-rata                  Rata-rata % AKG
Energi                                    1973 ±  40 kkal                                  78.0%
Protein                                               55.8 ±  4.5 g                          92.0%
Zat Besi                                 22.8 ±  3.5 mg                       172.0%
Vitamin C                              39.2 ±  3.5 mg                       47.0%

Tabel 3 juga menunjukkan rata-rata energi dan zat gizi dari makanan dan minuman yang disa­jikan oleh LAPAS dan perbandingannya dengan AKG subjek. Rata-rata energi hanya memenuhi 78.0% ke­butuhan subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein memenuhi 92.0% kebutuhan subjek dalam sehari. Rata-rata zat besi cukup tinggi yaitu me­menuhi 172.0% kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata zat besi, rata-rata vitamin C hanya memenuhi 47.0% kebutuhan subjek. Hal ini menun­jukkan bahwa energi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS belum cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan protein sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek. Jika dilihat dari kebu­tuhan subjek, zat besi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS memenuhi lebih dari ke­butuhan subjek, sedangkan vitamin C masih kurang memenuhi kebutuhan subjek.

D.    Kesimpulan Jurnal
Asupan energi dan protein subjek belum cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecu­kupan energi dan protein subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebu­tuhan subjek. Sebagian besar subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar sub­jek pun mengalami anemia.








BAB IV
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Anemia (dalam bahasa Yunani: ἀναιμία anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dariparu-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel darah merah, etiologi yang mendasari, dan penampakan klinis. Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Asupan energi dan protein subjek belum cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecu­kupan energi dan protein subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebu­tuhan subjek. Sebagian besar subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar sub­jek pun mengalami anemia.
B.   SARAN
Berdasarkan hasil kesimpulan diatas, maka disarankan :
Makanan LAPAS seharusnya mencukupi kebutuhan subjek,  energi dan protein harus seimbang dalam makanan di LAPAS untuk pengguna narkoba agar kebutuhan energi dan protein tercukupi.


















DAFTAR PUSTAKA

Arisman,MB.2010.Gizi Dalam Daur Kehidupan.Jakarta:Buku Kedokteran EGC

Atikah P, Erna K. 2011.  Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta: Muha Medika.

Indra, wulandari yettik. 2013. Prinsip Prinsip Dasar Ahli Gizi. Jakarta Timur: Dunia cerdas

Widyastuti,Agustin,Hardiyanto.(Peneterjemah).2008.GiziKesehatan Masyarakat.Jakarta:

Dewi, Pujiastuti N, Ibnu Fajar. 2013. Ilmu Gizi untuk praktisi kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu Ruko Jambusari No.7 A


Utami Wahyuningsih1*, Ali Khomsan1, dan Karina Rahmadia Ekawidyani1. 2014. Asupan Zat Gizi, Status Gizi, Dan Status Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangera. Vol 9 number 1 Maret 2014 diambil dari http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/8259 (27 November 2014)


TUGAS INDIVIDU
MAKALAH
“ANEMIA”


FITRIANI
70200113016

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
 KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul “ANEMIA”. Dalam makalah ini saya  merangkum  seluk beluk penyakit anemia, penjelasan jurnal anemia yang berjudul Asupan Zat Gizi, Status Gizi, Dan Status Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang sampai dengan ayat Al-qur’an yang berhubungan dengan penyakit Anemia. Saya  sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini saya  memiliki banyak keterbatasan ,sehingga jika pembaca menemukan kekurangan atau kekeliruan dengan hati terbuka penulis menerima salam dan kritik yang membangun.
            Akhirnya, saya ucapkan selamat membaca,semoga kita dapat memanfaatkan makalah ini bersama-sama, dengan dasar itikad yang baik untuk mengimplementasikannya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.



                                                                                  Samata, 27 Januari 2015

                                                                                               
                                                                                                            Penulis
                                                                                                          FITRIANI
                                                                                                          KESMAS A
                                                         DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG.................................................................................. 3
B.   RUMUSAN MASALAH............................................................................. 4
C.   TUJUAN MASALAH.................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN
1.    Pengertian Anemia................................................................................... 7
2.    Klasifikasi dan gejala Anemia................................................................. 8
3.    Etiologi Anemia......................................................................................... 12
4.    Gambaran Pathway dan Phatofisiologi Anemia................................. 14
5.    Pencegahan Penyakit Anemia dan metabolism fe............................ 16
6.    Integrasi Ayat Al-qur’an yang berhubungan Anemia........................ 18
BAB III TINJAUAN KASUS
A.   Tujuan dan Hasil penelitian jurnal........................................................ 20
B.   Metode........................................................................................................ 20
C.   Penjelasan table 1,2,3 jurnal ................................................................. 21
D.   Kesimpulan jurnal.................................................................................... 25
BAB IV PENUTUP
A.   KESIMPULAN........................................................................................... 26
B.   SARAN....................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Anemia (dalam bahasa Yunani: ἀναιμία anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dariparu-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel darah merah, etiologi yang mendasari, dan penampakan klinis. Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Istilah anemia mengacu pada suatu kondisi dimana terdapat penurunan konsentrasi hemoglobin, jumlah SDM sirkulasi, atau volume sel darah tanpa plasma hematokrit) dibandingkan dengan nilai-nilai normal. Anemia biasanya dikategorikan menurut penyebab atau morfologi. Untuk mengadopsi tipe anemia, kita harus menentukan mekanisme dasar dari penyakit tersebut. Hamper semua anemia dapat dibagi ke dalam dua bentuk:
a.    Yang disebabkan oleh kerusakan pembentukan SDM dan
b.    Yang disebabkan oleh kehilangan atau kerusakan SDM berlebihan.
Karakteristik morfologi SDM biasanya digunakan dalam klasifikasi anemia. Istilah yang digunakan termasuk ::
a.    Normokrom/normositik: ukuran dan warna SDM normal diberikan oleh konsentrasi hemoglobin.
b.    Mikrositik/hipokrom: penurunan ukuran dan warna SDM disebabkan oleh ketidakadekuatan konsentrasi hemoglobin
c.    Makrositik: SDM ukuran besar
d.    Poikilositosis: variasi bentuk SDM
Perubahan pada ukuran SDM atau kandungan hemoglobin umum terjadi pada anemia yang berhubungan dengan defisiensi besi, folat, atau vitamin B12. Bentuk sel memberikan petunjuk bermanfaat dalam mendiagnosis abnormalitas membrane yang diwariskan, anemia hemolitik, dan hemoglobinopatis.
Seorang pasien dikatakan anemia bila konsentrasi hemoglobin (Hb) nya kurang dari 13,5 g/dL atau hematokrit (Hct) kurang dari 41% pada laki-laki, dan konsentrasi Hb kurang dari 11,5 g/dL atau Hct kurang dari 36% pada perempuan.
Anemia adalah salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat, baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua. Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik.
Remaja adalah aset negara karena merupakan generasi penerus bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa para remaja ini harus mempunyai kualitas yang baik, yaitu memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, dan kesehatan yang prima. Perubahan gaya hidup masyarakat dewasa ini mengakibatkan adanya perubahan pada pergaulan di kalangan re-maja seperti merokok, seks bebas, dan salah sa­tunya yang masih menjadi masalah utama adalah penyalahgunaan narkoba. Jumlah pecandu narkoba di Indonesia berdasarkan survey Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2008 adalah sebanyak 2% dari jumlah penduduk atau sekitar 3.3 juta orang. Seki­tar 1.3 juta orang di antaranya adalah pelajar atau mahasiswa yang masih digolongkan sebagai remaja. Data Direktorat Tindak Pidana Narkoba Maret 2012 menyebutkan jumlah tersangka kasus narkoba ber­dasarkan jenis kelamin tahun 2011 adalah 173 286 orang laki-laki dan 16 026 orang perempuan. Se­mentara itu, jumlah tersangka kasus narkoba pada kelompok remaja tahun 2011 adalah 561 orang pada kelompok umur <16 tahun dan 9 635 orang pada ke-lompok umur 16—19 tahun.
Anemia defisiensi dibedakan menjadi:
·         Anemia defisiensi
·         Anemia aplastic
·         Anemia hemoragik
·         Anemia hemolitik
Anemia hemolitik dibedakan menjadi:
·         gangguan intakorpuskuler : kelainan struktur dinding eritrosit, defisiensi enzim, hemoglobinopatia
·         gangguan ektrakorpuskuler
Anemia post hemoragik bisa karena :
·         kehilangan darah mendadak
·         kehilangan darah menahun



B.   RUMUSAN MASALAH
1.     Apa pengertian penyakit Anemia ?
2.     Bagaimana klasifikasi dan gejala penyakit Anemia ?
3.     Bagaiamana etiologi peyakit  Anemia ?
4.     Bagaimana gambaran Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia ?
5.     Bagaimana pencegahan penyakit Anemia?
6.     Ayat Integrasi ayat Al-Qur’an ?
C.   Tujuan masalah
1.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Anemia
2.    Untuk mengetahui  klasifikasi dan gejala  penyakit Anemia
3.    Untuk mengetahui penyakit etiologi penyakit  Anemia
4.    Untuk mengetahui gambaran Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia.
5.    Untuk mengetahui pencegahan Anemia
6.    Untuk mengetahui ayat Al-Qur’an tentang penyakit Anemia










BAB II
PEMBAHASAN
1.    Pengertian Penyakit Anemia
Anemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) atau sel darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas sel darah merah dalam membawa oksigen (Badan POM, 2011).
Anemia adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar hemoglobin Hb) dan sel darah merah eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Jika kadar hemoglobin kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41% pada pria, maka pria tersebut dikatakan anemia. Demikian pula pada wanita, wanita yang memiliki kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%, maka wanita itu dikatakan anemia. Anemia bukan merupakan penyakit melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat.  Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan ada banyak tipe anemia dengan beragam penyebabnya. (Marilyn E, Doenges, Jakarta, 2002)
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin turun dibawah normal.(Wong, 2003)
2.    KLASIFIKASI ANEMIA
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:
a.    Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlash sel darah merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
1.    Anemia aplastik
Penyebab:
·         Agen neoplastik/sitoplastik
·         Terapi radiasi
·         Antibiotic tertentu
·         Obat anti konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutosan
·         Benzene
Infeksi virus (khususnya hepatitis)
                                              
Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang
             Kelainan sel induk (gangguan pembelahan , replikasi, deferensiasi) Hambatan humoral/seluler
                                                         
Gangguan sel induk di sumsum tulang

                Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai
 

                                                                        PANSITOPENIA

Anmemia aplastik
Gejala-gelaja
·         Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
·         Defisiensi  trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna, perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
·         Morfologis : anemia normositik normokromik
2.    Anemia pada ginjal
Gejala-gejala:
·         Nitrogen  urea darah  (BUN) lebih dari 10 mg/dl
·         Hematokrit turun 20-30%
·         Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi
Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritopotin
3.    Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normostik normokromik (sel darah merah dengan ukuran warna yang normal). Kelainan ini meliputi artristik  rematoid , abses paru, osteomilitis, tuberkolosis, dan berbagai keganasan.
4.    Anemia defisiensi besi
Penyebab :
·         Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi
·         Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
·         Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varises oesophagus, hemoroid)
gangguan eritropoesis
Absorbsi besi dari usus kurang
sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin
Anemia defisiensi besi
Gejala-gejalanya:
  Atropi papilla lidah
  Lidah pucat, merah, meradang
  Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
  Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
5.           Anemia megaloblastik
Penyebab:
  Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat
  Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor
  Infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.
Sintesis DNA terganggu
Gangguan maturasi inti sel darah merah
Megaloblas (eritroblas yang besar)
Eritrosit immatur dan hipofungsi

6.      Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh destruksi sel darah merah:
  Pengaruh obat-obatan tertentu
  Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia limfositik kronik
  Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
  Proses autoimun
  Reaksi transfusi
Malaria
Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit
Antigesn pada eritrosit berubah
Dianggap benda asing oleh tubuh
sel darah merah dihancurkan oleh limposit
Anemia hemolisis




3.    ETIOLOGI ANEMIA
1.  Hemolisis (eritrosit mudah pecah)
2.   Perdarahan
3.  Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)
4.  Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi  defisiensi besi, folic acid, piridoksin, vitamin C dan copper
Menurut Badan POM (2011), Penyebab anemia yaitu:
a.    Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, asam folat, vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
b.    Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi rawan terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya banyak dan dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.
c.    Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap zat besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.
d.    Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan terus-menerus di saluran pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu dapat menyebabkan anemia.
e.    Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perdarahan lambung (aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat menyebabkan masalah dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil KB, antiarthritis, dll).
f.     Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi). Ini dapat menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan vitamin B12.
g.    Penyakit radang kronis seperti lupus, arthritis rematik, penyakit ginjal, masalah pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker dan penyakit lainnya dapat menyebabkan anemia karena mempengaruhi proses pembentukan sel darah merah.
h.    Pada anak-anak, anemia dapat terjadi karena infeksi cacing tambang, malaria, atau disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.

4.    GAMBARAN PATHWAY dan PATHOFISIOLOGI ANEMIA
A. Gambaran Pathway (Patrick Davey, 2002)


            PATHOFISIOLOGI
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
Anemia
viskositas darah menurun
resistensi aliran darah perifer
penurunan transport O2 ke jaringan
hipoksia, pucat, lemah
beban jantung meningkat
kerja jantung meningkat
payah jantung


5.    Pencegahan Penyakit Anemia
Banyak jenis anemia tidak dapat dicegah. Tapi anda dapat membantu menghindari iron deficiency anemia dan vitamin deficiency anemias dengan makanan sehat yang mengandung:
 Zat besi
Dapat ditemukan pada daging. Jenis lain adalah kacang, sayuran berwana hijau gelap, buah yang dikeringkan, dan lain-lain.
 Folat
Dapat ditemukan pada jeruk, pisang, sayuran berwarna hijau gelap, kacang-kavangan, sereal dan pasta.
 Vitamin B-12
Vitamin ini banyak terdapat pada daging dan susu.
 Vitamin C
Vitamin C membantu penyerapan zat besi. Makanan yang mengandung vitamin C antara lain jeruk, melon dan buah beri. Makanan yang mengandung zat besi penting untuk mereka yang membutuhkan zat besi tinggi seperti pada anak-anak, wanita menstruasi dan wanita hamil. Zat besi yang cukup juga penting untuk bayi, vegetarian dan atlet.
Metabolisme Fe


Besi diabsorsi dalam usus halus (duodenum dan yeyenum) proksimal. Besi yang terkandung dalam makanan ketika dalam lambung dibebaskan menjadi ion fero dengan bantuan asam lambung (HCL). Kemudian masuk ke usus halus dirubah menjadi ion fero dengan pengaruh alkali, kemudian ion fero diabsorpsi, sebagian disimpan sebagai senyawa feritin dan sebagian lagi masuk keperedaran darah berikatan dengan protein (transferin) yang akan digunakan kembali untuk sintesa hemoglobin. Sebagian dari transferin yang tidak terpakai disimpan sebagai labile iron pool. Penyerapan ion fero dipermudah dengan adanya vitamin atau fruktosa, tetapi akan terhambat dengan fosfat, oksalat, susu, antasid

6.    Intergrasi Ayat Al-Qur’an
Terjemahan :
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat ini merujuk pada resipienatau penerima darah adalah orang yang benar-benar dalam keadaan yang kritis. Dan kita juga dilarang untuk memperjual-belikan darah tersebut. Sedangkan bagi si pendonor beliau mengutip salah satu hadits Nabi MuhammadSAW yang mengandung makna: “Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” yang terakhir tentang siapa yangmemberikan rujukan, beliau mengutip Hadist Nabi yang diriwayatkan Al-Bukhari yangmaknanya kurang lebih Rasulullah menyewa seorang penunjuk jalan yang pada saat itumasih memeluk agama orang kafir quraisy. Ini berarti tidak mengapa jika yangmemberikan rujukan adalah seorang dokter yang bukan seorang muslim jika memangtidak ada dokter yang muslim.  Kemajuan ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi darisejumlah teks-teks agama, salah satunya adalah Quran dan Hadits. Pada sebuah tulisandisebutkan mengenai deskripsi yang akurat tentang struktur anatomi, prosedur bedah,karakteristik fisiologi dan pengobatan medis. Paper ini ditulis sebagai review atau rangkumanuntuk menyajikan secara akurat kontribusi Al Quran dan Hadits dengan fokus khusus padasistem jantung. Sistem jantung ini sangat erat kaitannya dengan sistem peredaran darah.Mungkin penting untuk diketahui disini, bahwa kata " heart " dalam duniakedokteran berarti jantung, bukan hati. Adapun "hati" dalam kedokteran adalah liver . Karenaitu kata qalb dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi " heart"  yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.Mengenai sistem jantung, darah dan sirkulasinya, terdapat sebuah ayat Al Quran yangmenyatakan bahwa













BAB III
TINJAUAN  KASUS
JURNAL ASUPAN ZAT GIZI, STATUS GIZI, DAN STATUS ANEMIA PADA REMAJA LAKI-LAKI PENGGUNA NARKOBA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK PRIA TANGERANGISSN 1978 - 1059Jurnal Gizi dan Pangan, Maret 2014, 9(1): 23—28

A.   Tujuan  dan Hasil penelitian jurnal
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis asupan energi dan zat gizi, status gizi, dan status anemia remaja laki-laki pengguna narkoba di lembaga pemasyarakatan (LAPAS) anak pria kelas IIA Kota Tangerang. Hasil analisis deskriptif menunjukkan tingkat kecukupan energi (35.0%) dan protein (27.5%) subjek berada pada kategori defisit berat. Rata-rata energi dari makanan yang disediakan LAPAS belum memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Tingkat kecukupan zat besi subjek berada pada kategori cukup (82.5%) dan tingkat kecukupan vitamin C subjek berada pada kategori kurang (100.0%). Subjek berada dalam kategori status gizi normal (85.0%) dan mengalami anemia (57.5%).
B.   Metode
Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilaksa-nakan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Kelas IIA, Kota Tangerang dan berlangsung selama dua bu­lan, yaitu dari bulan Juni—Juli 2013.
Jumlah dan Cara Penarikan Subjek
Subjek adalah remaja laki-laki pengguna narkoba. Kriteria inklusi subjek adalah dipenjara karena memakai narkoba, minimal berada dalam lembaga pemasyarakatan selama tiga bulan, dalam keadaan sehat, tidak memiliki penyakit kronis, dan bersedia dijadikan subjek penelitian. Jumlah subjek sebanyak 40 orang dan dipilih secara purposive.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah primer dan sekunder. Data primer yaitu karakteristik subjek yang diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner. Data frekuensi konsumsi pangan dikumpulkan meng­gunakan kuesioner Food Frequency. Data konsumsi makanan dan minuman subjek diperoleh dengan cara menimbang (food weighing) dan wawancara menggunakan kuesioner Food Recall. Data keterse­diaan makanan dan minuman diperoleh dengan cara menimbang (food weighing). Data berat badan dan tinggi badan diperoleh melalui pengukuran menggu­nakan timbangan injak dan microtoise. Data status anemia diperoleh melalui pengukuran menggunakan metode Cyanmethemoglobin.
Pengolahan dan Analisis Data
Data status gizi dikelompokkan menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) berdasar­kan Kemenkes (2010) untuk remaja 15—18 tahun sedangkan untuk remaja 19—20 tahun mengguna­kan IMT berdasarkan WHO (2004). Kriteria anemia menurut WHO (2001) untuk remaja laki-laki adalah <13 g/dl.
C.    TABEL 1,2,3 Pada Jurnal
Rata-rata Asupan dan Tingkat Kecukupan  Energi dan Zat Gizi

      Energi & Zat Gizi            Rata-rata Asupan              Rata-rata  %AKG
                        Energi                                    1 959 ± 584 kkal                                               79.0%
                        Protein                                     51 ± 16.2 g                                                         84.0%
                                Zat Besi                                 18 ± 6.7 mg                                                          137.0%
                                Vitamin C                                              20 ± 14.1 mg                                        24.0%

Tabel 1 menunjukkan rata-rata asupan energi dan zat gizi subjek dan persentase AKG sub­jek. Rata-rata asupan energi subjek baru memenuhi 79.0% kebutuhan subjek sehari, sedangkan rata-rata asupan protein subjek sedikit lebih tinggi yaitu me­menuhi 84.0% kebutuhan subjek sehari. Rata-rata asupan zat besi subjek cukup tinggi yaitu memenuhi 137.0% kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata asupan zat besi, rata-rata asupan vitamin C subjek hanya memenuhi 24.0% kebutuhan subjek. Hal ini menunjukkan bahwa asupan energi dan pro­tein subjek belum cukup memenuhi kebutuhannya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Dwiningsih dan Pramono (2013) yang menyatakan bahwa rata-rata asupan energi dan protein remaja masih tergo­long dalam kategori kurang. Asupan zat besi subjek sudah cukup memenuhi kebutuhannya, dan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi kebutuhannya. Tingkat kecukupan energi dan zat gizi diukur dengan cara membandingkan konsumsi energi dan zat gizi subjek dengan kebutuhan energi dan zat gizi subjek.

TABEL 2 Sebaran Subjek berdasarkan Tingkat Kecukupan Energi dan Protein

                                Tingkat   Energi                           Protein
                         Kecukupan n                    %                             n                                       %
                Defisit Berat               14                 35.0                          13                   27.5
               Defisit sedang            10                 20.0                          6                    17.5
               Defisit ringan               3                 12.5                           8                     20.0
               Normal                         12                30.0                           7                     17.5
               Total                              40               100                            40                   100

Tabel 2 menunjukkan sebaran subjek berdasarkan tingkat kecukupan energi dan protein. Tingkat kecukupan energi subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat (35.0%). Tingkat kecu­kupan protein subjek pun mayoritas berada pada kategori defisit berat (27.5%). Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori cu­kup sebesar 82.5%. Sebaliknya, tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya (100.0%) berada pada kategori kurang. Sebagian besar tingkat kecukupan energi dan protein subjek yang mengalami defisit berat ini di­duga karena makanan yang disediakan oleh LAPAS tidak dikonsumsi sama sekali ataupun hanya sepa­ruh. Rasa dan kualitas bahan makanan yang kurang diduga menjadi faktor utama penyebabnya. Ting­kat kecukupan zat besi yang mayoritas termasuk dalam kategori cukup ini diduga karena subjek sering dan banyak mengonsumsi pangan yang menjadi sumber zat besi. Tingkat kecukupan vitamin C yang semuanya berada pada kategori kurang diduga ka-rena subjek hanya mengonsumsi buah pisang yang kurang mengandung vitamin C. Sayuran yang dise­diakan oleh LAPAS banyak yang mengandung vitamin C tinggi seperti kol, namun mayoritas subjek tidak mengonsumsi sayuran tersebut karena rasa yang kurang. Rosidi dan Sulistyowati (2012), menyatakan kurangnya mengonsumsi sayuran dapat mengakibat­kan kekurangan salah satu atau lebih vitamin dan mineral.

TABEL 3 Rata-rata Energi dan Zat Gizi yang tersedia  dan Tingkat Ketersediaan Makanan yang   Disajikan oleh LAPAS


 Energi & zat gizi                    Rata-rata                  Rata-rata % AKG
Energi                                    1973 ±  40 kkal                                  78.0%
Protein                                               55.8 ±  4.5 g                          92.0%
Zat Besi                                 22.8 ±  3.5 mg                       172.0%
Vitamin C                              39.2 ±  3.5 mg                       47.0%

Tabel 3 juga menunjukkan rata-rata energi dan zat gizi dari makanan dan minuman yang disa­jikan oleh LAPAS dan perbandingannya dengan AKG subjek. Rata-rata energi hanya memenuhi 78.0% ke­butuhan subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein memenuhi 92.0% kebutuhan subjek dalam sehari. Rata-rata zat besi cukup tinggi yaitu me­menuhi 172.0% kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata zat besi, rata-rata vitamin C hanya memenuhi 47.0% kebutuhan subjek. Hal ini menun­jukkan bahwa energi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS belum cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan protein sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek. Jika dilihat dari kebu­tuhan subjek, zat besi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS memenuhi lebih dari ke­butuhan subjek, sedangkan vitamin C masih kurang memenuhi kebutuhan subjek.

D.    Kesimpulan Jurnal
Asupan energi dan protein subjek belum cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecu­kupan energi dan protein subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebu­tuhan subjek. Sebagian besar subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar sub­jek pun mengalami anemia.








BAB IV
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Anemia (dalam bahasa Yunani: ἀναιμία anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dariparu-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel darah merah, etiologi yang mendasari, dan penampakan klinis. Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Asupan energi dan protein subjek belum cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecu­kupan energi dan protein subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebu­tuhan subjek. Sebagian besar subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar sub­jek pun mengalami anemia.
B.   SARAN
Berdasarkan hasil kesimpulan diatas, maka disarankan :
Makanan LAPAS seharusnya mencukupi kebutuhan subjek,  energi dan protein harus seimbang dalam makanan di LAPAS untuk pengguna narkoba agar kebutuhan energi dan protein tercukupi.


















DAFTAR PUSTAKA

Arisman,MB.2010.Gizi Dalam Daur Kehidupan.Jakarta:Buku Kedokteran EGC

Atikah P, Erna K. 2011.  Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta: Muha Medika.

Indra, wulandari yettik. 2013. Prinsip Prinsip Dasar Ahli Gizi. Jakarta Timur: Dunia cerdas

Widyastuti,Agustin,Hardiyanto.(Peneterjemah).2008.GiziKesehatan Masyarakat.Jakarta:

Dewi, Pujiastuti N, Ibnu Fajar. 2013. Ilmu Gizi untuk praktisi kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu Ruko Jambusari No.7 A


Utami Wahyuningsih1*, Ali Khomsan1, dan Karina Rahmadia Ekawidyani1. 2014. Asupan Zat Gizi, Status Gizi, Dan Status Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangera. Vol 9 number 1 Maret 2014 diambil dari http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/8259 (27 November 2014)
 

Semua Akan Indah Pada Waktu-Nya ^_^ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea