About me :)
About this blog
Blog ini memberi informasi ataupun berita mengenai pendidikan, hiburan, tips, cerita ataupun curahan hati saya
Blog List
Kamis, 29 Januari 2015
Sosok inspirasiku
Tinggal 5 hari lagi ayahku berulang tahun, yaaa ayahku atau yang lebih akrab ku sapa dengan memanggil beliau dengan panggilan "Etta" . Keinginanku pada Tuhan sangat banyak untuk beliau di ulang tahunnya Februari nanti, mendoakannya sehat selalu, mendoakannya selalu panjang umur hingga melihat saya lulus kuliah dan menikah, serta mendoakan beliau selalu terlindungi dalam segala marabahaya. Sebagai seorang anak, saya sangat bangga kepada beliau. Beliau merupakan sosok inspirasiku, beliau selalu mendukung hasil karya yang kubuat... Ettaku itu sangat pintar merakit barang yang berhubungan dengan listrik, menciptakan lampu rumah, menciptakan kapal dari kertas bekas, menciptakan lukisan dari pelepah pisang. Namun, terkadang dengan bakat yang dimiliki ettaku (ayahku) aku pernah meneteskan air mata. Bukan kecewa ataupun bahagia melihat hasil karyanya banyak terpajang di rumah. Namun karena hasil karya itu jarang dibeli oleh orang lain,. Ayahku sangat baik, uangnya terkadang habis untuk membeli bahan - bahan sebagai sarana menyalurkan hobbynya, sehingga jika hasil karyanya selesai ia buat, orang lain yang melihat dan menyukainya, hanya memintanya dengan gratis. padahal ayahku sering berkata padaku, untuk mengupload hasil karyanya ini di jejaring sosial seperti FB atau twitter, hal ini ia lakukan supaya ada yang membeli hasil karyanya sebagai tambahan sedikit untuk membuat karya yang baru. Aku bangga padamu ayah, engkau kadang ikhlas memberikan semua hasil karyamu itu untuk teman - temanmu di sekolah. Ya , kalian harus tahu . Ayahku itu seorang guru di SMAN 1 Majauleng, ia mempunyai banyak teman guru. Ettaku sebagai guru, dan sekaligus sebagai ayah terhebat bagiku. :) Lelaki terhebat yang pernah kutemui
Hasil - Hasil karya ayahku :) Semua buatan jari - jari kuatnya yang sangat hebat....
I love Etta :) :* Selamat Ulang tahun, Panjang Umur, dan Sehat Selalu... Aamiin Yaa Allah
I with you
Trio Angel, hahah :D saya sebut saja julukan kami begitu. Mengapa dan kenapa saya berkata demikian, karena dua orang sahabat di kampus saya ini seperti malaikat yang selalu menemani, membantu, dan bercanda bersama :) Sebenarnya sih masih ada lima malaikat lain yang selalu mendampingi langkahku di kampus. Hanya ingin bersyukur pada-Mu Tuhan, engkau mengirimkan orang - orang yang spesial seperti mereka. :')
Anemia
TUGAS
INDIVIDU
MAKALAH
“ANEMIA”
ANDI AYU HAPSARI
70200113017
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT
karena berkat limpahan rahmat Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan judul “ANEMIA”.
Dalam makalah ini saya merangkum seluk beluk penyakit anemia, penjelasan
jurnal anemia yang berjudul Asupan Zat
Gizi, Status Gizi, Dan Status Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di
Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang” sampai dengan ayat Al-qur’an yang berhubungan
dengan penyakit Anemia. Saya sangat
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini saya memiliki banyak keterbatasan ,sehingga jika
pembaca menemukan kekurangan atau kekeliruan dengan hati terbuka penulis
menerima salam dan kritik yang membangun.
Akhirnya,
saya ucapkan selamat membaca,semoga kita dapat memanfaatkan makalah ini
bersama-sama, dengan dasar itikad yang baik untuk mengimplementasikannya dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
Samata, 27 Januari 2015
Penulis
FITRIANI
KESMAS
A
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.............................................................................................. 1
DAFTAR
ISI............................................................................................................ 2
BAB
I PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG.................................................................................. 3
B. RUMUSAN
MASALAH............................................................................. 4
C. TUJUAN
MASALAH.................................................................................. 4
BAB
II PEMBAHASAN
1. Pengertian
Anemia................................................................................... 7
2. Klasifikasi
dan gejala Anemia................................................................. 8
3. Etiologi
Anemia......................................................................................... 12
4. Gambaran
Pathway dan Phatofisiologi Anemia................................. 14
5. Pencegahan
Penyakit Anemia dan metabolism fe............................ 16
6. Integrasi
Ayat Al-qur’an yang berhubungan Anemia........................ 18
BAB
III TINJAUAN KASUS
A. Tujuan
dan Hasil penelitian jurnal........................................................ 20
B. Metode........................................................................................................ 20
C. Penjelasan
table 1,2,3 jurnal ................................................................. 21
D. Kesimpulan
jurnal.................................................................................... 25
BAB
IV PENUTUP
A. KESIMPULAN........................................................................................... 26
B. SARAN....................................................................................................... 27
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Anemia (dalam
bahasa Yunani: ἀναιμία
anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα
haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau
jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah
normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka
mengangkut oksigen dariparu-paru,
dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah
penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit
dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel
darah merah, etiologi yang
mendasari, dan penampakan klinis.
Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya
sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau
kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Istilah anemia mengacu pada suatu kondisi dimana terdapat
penurunan konsentrasi hemoglobin, jumlah SDM sirkulasi, atau volume sel darah
tanpa plasma hematokrit) dibandingkan dengan nilai-nilai normal. Anemia
biasanya dikategorikan menurut penyebab atau morfologi. Untuk mengadopsi tipe
anemia, kita harus menentukan mekanisme dasar dari penyakit tersebut. Hamper
semua anemia dapat dibagi ke dalam dua bentuk:
a. Yang
disebabkan oleh kerusakan pembentukan SDM dan
b. Yang
disebabkan oleh kehilangan atau kerusakan SDM berlebihan.
Karakteristik
morfologi SDM biasanya digunakan dalam klasifikasi anemia. Istilah yang
digunakan termasuk ::
a. Normokrom/normositik:
ukuran dan warna SDM normal diberikan oleh konsentrasi hemoglobin.
b. Mikrositik/hipokrom:
penurunan ukuran dan warna SDM disebabkan oleh ketidakadekuatan konsentrasi
hemoglobin
c. Makrositik:
SDM ukuran besar
d. Poikilositosis:
variasi bentuk SDM
Perubahan pada ukuran SDM atau kandungan
hemoglobin umum terjadi pada anemia yang berhubungan dengan defisiensi besi,
folat, atau vitamin B12. Bentuk sel memberikan petunjuk bermanfaat dalam
mendiagnosis abnormalitas membrane yang diwariskan, anemia hemolitik, dan
hemoglobinopatis.
Seorang pasien dikatakan anemia bila konsentrasi hemoglobin (Hb)
nya kurang dari 13,5 g/dL atau hematokrit (Hct) kurang dari 41%
pada laki-laki, dan konsentrasi Hb kurang dari 11,5 g/dL atau Hct kurang dari
36% pada perempuan.
Anemia adalah salah satu penyakit yang
sering diderita masyarakat, baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil
ataupun orang tua. Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan
zat besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik.
Remaja adalah aset negara karena
merupakan generasi penerus bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa para remaja
ini harus mempunyai kualitas yang baik, yaitu memiliki fisik yang tangguh,
mental yang kuat, dan kesehatan yang prima. Perubahan gaya hidup masyarakat
dewasa ini mengakibatkan adanya perubahan pada pergaulan di kalangan re-maja
seperti merokok, seks bebas, dan salah satunya yang masih menjadi masalah
utama adalah penyalahgunaan narkoba. Jumlah pecandu narkoba di Indonesia
berdasarkan survey Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2008 adalah sebanyak 2%
dari jumlah penduduk atau sekitar 3.3 juta orang. Sekitar 1.3 juta orang di
antaranya adalah pelajar atau mahasiswa yang masih digolongkan sebagai remaja.
Data Direktorat Tindak Pidana Narkoba Maret 2012 menyebutkan jumlah tersangka
kasus narkoba berdasarkan jenis kelamin tahun 2011 adalah 173 286 orang
laki-laki dan 16 026 orang perempuan. Sementara itu, jumlah tersangka kasus narkoba
pada kelompok remaja tahun 2011 adalah 561 orang pada kelompok umur <16
tahun dan 9 635 orang pada ke-lompok umur 16—19 tahun.
Anemia defisiensi dibedakan menjadi:
·
Anemia
defisiensi
·
Anemia
aplastic
·
Anemia
hemoragik
·
Anemia
hemolitik
Anemia
hemolitik dibedakan menjadi:
·
gangguan
intakorpuskuler : kelainan struktur dinding eritrosit, defisiensi enzim,
hemoglobinopatia
·
gangguan
ektrakorpuskuler
Anemia post hemoragik bisa karena :
·
kehilangan
darah mendadak
·
kehilangan
darah menahun
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa pengertian
penyakit Anemia ?
2.
Bagaimana klasifikasi dan gejala penyakit
Anemia ?
3.
Bagaiamana etiologi peyakit Anemia ?
4.
Bagaimana gambaran
Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia ?
5.
Bagaimana pencegahan penyakit Anemia?
6.
Ayat Integrasi ayat
Al-Qur’an ?
C. Tujuan
masalah
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Anemia
2. Untuk
mengetahui klasifikasi dan gejala
penyakit Anemia
3. Untuk mengetahui penyakit etiologi penyakit Anemia
4. Untuk
mengetahui gambaran Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia.
5. Untuk
mengetahui pencegahan Anemia
6. Untuk
mengetahui ayat Al-Qur’an tentang penyakit Anemia
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Penyakit Anemia
Anemia
adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) atau sel
darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas sel darah
merah dalam membawa oksigen (Badan POM, 2011).
Anemia
adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar hemoglobin Hb) dan sel
darah merah eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Jika kadar hemoglobin
kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41% pada pria, maka pria tersebut
dikatakan anemia. Demikian pula pada wanita, wanita yang memiliki kadar
hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%, maka wanita itu
dikatakan anemia. Anemia bukan merupakan penyakit melainkan merupakan
pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara
fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk
mengangkut oksigen ke jaringan.
Anemia didefinisikan
sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb sampai di bawah rentang nilai
yang berlaku untuk orang sehat. Anemia adalah gejala dari kondisi
yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat atau
kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang mengakibatkan
penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan ada banyak tipe anemia dengan
beragam penyebabnya. (Marilyn E, Doenges, Jakarta, 2002)
Anemia adalah keadaan
dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin turun dibawah
normal.(Wong, 2003)
2. KLASIFIKASI ANEMIA
Klasifikasi berdasarkan
pendekatan fisiologis:
a.
Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlash sel darah
merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
1.
Anemia aplastik
Penyebab:
·
Agen neoplastik/sitoplastik
·
Terapi radiasi
·
Antibiotic tertentu
·
Obat anti konvulsan, tyroid, senyawa emas,
fenilbutosan
·
Benzene
Infeksi
virus (khususnya hepatitis)
Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk)
di sumsum tulang
Kelainan sel induk (gangguan
pembelahan , replikasi, deferensiasi) Hambatan humoral/seluler
Gangguan
sel induk di sumsum tulang
Jumlah sel darah merah yang
dihasilkan tak memadai
PANSITOPENIA
Anmemia aplastik
Gejala-gelaja
·
Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
·
Defisiensi
trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna,
perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
·
Morfologis : anemia normositik normokromik
2.
Anemia pada ginjal
Gejala-gejala:
·
Nitrogen
urea darah (BUN) lebih dari 10
mg/dl
·
Hematokrit turun 20-30%
·
Sel darah merah tampak normal pada apusan
darah tepi
Penyebabnya adalah
menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritopotin
3.
Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi
kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normostik normokromik (sel darah
merah dengan ukuran warna yang normal). Kelainan ini meliputi artristik rematoid , abses paru, osteomilitis,
tuberkolosis, dan berbagai keganasan.
4.
Anemia defisiensi besi
Penyebab :
·
Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan
meningkat selama hamil, menstruasi
·
Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
·
Kehilangan darah yang menetap (neoplasma,
polip, gastritis, varises oesophagus, hemoroid)
↓
gangguan eritropoesis
↓
Absorbsi
besi dari usus kurang
↓
sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin
↓
Anemia defisiensi besi
Gejala-gejalanya:
Atropi papilla lidah
Lidah pucat, merah, meradang
Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
5. Anemia
megaloblastik
Penyebab:
Defisiensi defisiensi vitamin
B12 dan defisiensi asam folat
Malnutrisi, malabsorbsi,
penurunan intrinsik faktor
Infeksi parasit, penyakit usus
dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang
terinfeksi, pecandu alkohol.
↓
Sintesis DNA terganggu
↓
Gangguan maturasi inti sel darah merah
↓
Megaloblas (eritroblas yang besar)
↓
Eritrosit immatur dan hipofungsi
6. Anemia
hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh
destruksi sel darah merah:
Pengaruh obat-obatan tertentu
Penyakit Hookin, limfosarkoma,
mieloma multiple, leukemia limfositik kronik
Defisiensi glukosa 6 fosfat
dihidrigenase
Proses autoimun
Reaksi
transfusi
Malaria
↓
Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel
eritrosit
↓
Antigesn pada eritrosit berubah
↓
Dianggap benda asing oleh tubuh
↓
sel darah merah dihancurkan oleh limposit
↓
Anemia hemolisis
3.
ETIOLOGI
ANEMIA
1. Hemolisis (eritrosit
mudah pecah)
2. Perdarahan
3. Penekanan sumsum tulang
(misalnya oleh kanker)
4. Defisiensi
nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic acid,
piridoksin, vitamin C dan copper
Menurut Badan POM (2011), Penyebab anemia yaitu:
a.
Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12,
asam folat, vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan sel
darah merah.
b.
Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi
rawan terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya banyak
dan dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.
c.
Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap
zat besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.
d.
Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan
terus-menerus di saluran pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu
dapat menyebabkan anemia.
e.
Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan
perdarahan lambung (aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat
menyebabkan masalah dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil KB,
antiarthritis, dll).
f.
Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi).
Ini dapat menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan vitamin
B12.
g.
Penyakit radang kronis seperti lupus, arthritis rematik, penyakit
ginjal, masalah pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker dan penyakit
lainnya dapat menyebabkan anemia karena mempengaruhi proses pembentukan sel
darah merah.
h.
Pada anak-anak, anemia dapat terjadi karena infeksi cacing
tambang, malaria, atau disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.
4.
GAMBARAN
PATHWAY dan PATHOFISIOLOGI ANEMIA
A. Gambaran
Pathway (Patrick Davey, 2002)
PATHOFISIOLOGI
Timbulnya anemia mencerminkan adanya
kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau
keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan
toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel
darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini
dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah
merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi)
terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial,
terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang
akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis)
segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤
1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami
penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan
muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi
kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk
mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan
kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu
anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi
sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperleh dengan dasar:1.
hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah
merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat
dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
Anemia
↓
viskositas darah menurun
↓
resistensi aliran darah perifer
↓
penurunan transport O2 ke jaringan
↓
hipoksia, pucat, lemah
↓
beban jantung meningkat
↓
kerja jantung meningkat
↓
payah jantung
5.
Pencegahan Penyakit Anemia
Banyak
jenis anemia tidak dapat dicegah. Tapi anda dapat membantu menghindari iron
deficiency anemia dan vitamin deficiency anemias dengan makanan sehat yang
mengandung:
Zat besi
Dapat
ditemukan pada daging. Jenis lain adalah kacang, sayuran berwana hijau gelap,
buah yang dikeringkan, dan lain-lain.
Folat
Folat
Dapat
ditemukan pada jeruk, pisang, sayuran berwarna hijau gelap, kacang-kavangan,
sereal dan pasta.
Vitamin B-12
Vitamin B-12
Vitamin
ini banyak terdapat pada daging dan susu.
Vitamin C
Vitamin C
membantu penyerapan zat besi. Makanan yang mengandung vitamin C
antara lain jeruk, melon dan buah beri. Makanan yang mengandung zat besi
penting untuk mereka yang membutuhkan zat besi tinggi seperti pada anak-anak,
wanita menstruasi dan wanita hamil. Zat besi yang cukup juga penting untuk
bayi, vegetarian dan atlet.
Metabolisme Fe
Besi
diabsorsi dalam usus halus (duodenum dan yeyenum) proksimal. Besi yang
terkandung dalam makanan ketika dalam lambung dibebaskan menjadi ion fero
dengan bantuan asam lambung (HCL). Kemudian masuk ke usus halus dirubah menjadi
ion fero dengan pengaruh alkali, kemudian ion fero diabsorpsi, sebagian
disimpan sebagai senyawa feritin dan sebagian lagi masuk keperedaran darah
berikatan dengan protein (transferin) yang akan digunakan kembali untuk sintesa
hemoglobin. Sebagian dari transferin yang tidak terpakai disimpan sebagai
labile iron pool. Penyerapan ion fero dipermudah dengan adanya vitamin atau
fruktosa, tetapi akan terhambat dengan fosfat, oksalat, susu, antasid
6.
Intergrasi
Ayat Al-Qur’an
Terjemahan
:
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai,
darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat ini
merujuk pada resipienatau penerima darah adalah orang yang benar-benar dalam
keadaan yang kritis. Dan kita juga dilarang untuk memperjual-belikan darah
tersebut. Sedangkan bagi si pendonor beliau mengutip salah satu hadits Nabi
MuhammadSAW yang mengandung makna: “Tidak
boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak boleh pula
membahayakan orang lain.” yang terakhir
tentang siapa yangmemberikan rujukan, beliau mengutip Hadist Nabi yang
diriwayatkan Al-Bukhari yangmaknanya kurang lebih Rasulullah menyewa seorang
penunjuk jalan yang pada saat itumasih memeluk agama orang kafir quraisy. Ini
berarti tidak mengapa jika yangmemberikan rujukan adalah seorang dokter yang
bukan seorang muslim jika memangtidak ada dokter yang muslim. Kemajuan
ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi darisejumlah teks-teks
agama, salah satunya adalah Quran dan Hadits. Pada sebuah tulisandisebutkan
mengenai deskripsi yang akurat tentang struktur anatomi, prosedur
bedah,karakteristik fisiologi dan pengobatan medis. Paper ini ditulis sebagai
review atau rangkumanuntuk menyajikan secara akurat kontribusi Al Quran dan
Hadits dengan fokus khusus padasistem jantung. Sistem jantung ini sangat erat
kaitannya dengan sistem peredaran darah.Mungkin penting untuk diketahui disini,
bahwa kata " heart "
dalam duniakedokteran berarti jantung, bukan hati. Adapun "hati"
dalam kedokteran adalah liver . Karenaitu
kata qalb dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi
" heart" yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.Mengenai
sistem jantung, darah dan sirkulasinya, terdapat sebuah ayat Al Quran yangmenyatakan bahwa
BAB III
TINJAUAN KASUS
JURNAL “ASUPAN ZAT GIZI, STATUS GIZI, DAN STATUS ANEMIA PADA REMAJA LAKI-LAKI
PENGGUNA NARKOBA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK PRIA TANGERANG” ISSN 1978 - 1059Jurnal Gizi
dan Pangan, Maret 2014, 9(1): 23—28
A. Tujuan dan Hasil
penelitian jurnal
Tujuan penelitian ini adalah untuk
menganalisis asupan energi dan zat gizi, status gizi, dan status anemia remaja
laki-laki pengguna narkoba di lembaga pemasyarakatan (LAPAS) anak pria kelas
IIA Kota Tangerang. Hasil analisis deskriptif menunjukkan
tingkat kecukupan energi (35.0%) dan protein (27.5%) subjek berada pada
kategori defisit berat. Rata-rata energi dari makanan yang disediakan LAPAS
belum memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein sudah
cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Tingkat kecukupan zat besi subjek
berada pada kategori cukup (82.5%) dan tingkat kecukupan vitamin C subjek
berada pada kategori kurang (100.0%). Subjek berada dalam kategori status gizi
normal (85.0%) dan mengalami anemia (57.5%).
B. Metode
Desain,
Tempat, dan Waktu Penelitian
Desain
yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study.
Penelitian ini dilaksa-nakan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Kelas IIA,
Kota Tangerang dan berlangsung selama dua bulan, yaitu dari bulan Juni—Juli 2013.
Jumlah
dan Cara Penarikan Subjek
Subjek
adalah remaja laki-laki pengguna narkoba. Kriteria inklusi subjek adalah
dipenjara karena memakai narkoba, minimal berada dalam lembaga pemasyarakatan
selama tiga bulan, dalam keadaan sehat, tidak memiliki penyakit kronis, dan
bersedia dijadikan subjek penelitian. Jumlah subjek sebanyak 40 orang dan
dipilih secara purposive.
Jenis
dan Cara Pengumpulan Data
Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah primer dan sekunder. Data primer yaitu
karakteristik subjek yang diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan alat
bantu kuesioner. Data frekuensi konsumsi pangan dikumpulkan menggunakan
kuesioner Food Frequency. Data konsumsi makanan dan minuman subjek
diperoleh dengan cara menimbang (food weighing) dan wawancara
menggunakan kuesioner Food Recall. Data ketersediaan makanan dan
minuman diperoleh dengan cara menimbang (food weighing). Data berat
badan dan tinggi badan diperoleh melalui pengukuran menggunakan timbangan
injak dan microtoise. Data status anemia diperoleh melalui pengukuran
menggunakan metode Cyanmethemoglobin.
Pengolahan dan Analisis Data
Data status gizi dikelompokkan
menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) berdasarkan Kemenkes
(2010) untuk remaja 15—18 tahun sedangkan untuk remaja 19—20 tahun menggunakan
IMT berdasarkan WHO (2004). Kriteria anemia menurut WHO (2001) untuk remaja
laki-laki adalah <13 g/dl.
C. TABEL 1,2,3 Pada Jurnal
Rata-rata
Asupan dan Tingkat Kecukupan Energi dan
Zat Gizi
Energi & Zat Gizi Rata-rata Asupan Rata-rata %AKG
Energi
1
959 ± 584 kkal 79.0%
Protein 51 ±
16.2 g 84.0%
Zat Besi 18 ± 6.7 mg 137.0%
Vitamin
C 20
± 14.1 mg 24.0%
Tabel 1 menunjukkan
rata-rata asupan energi dan zat gizi subjek dan persentase AKG subjek.
Rata-rata asupan energi subjek baru memenuhi 79.0% kebutuhan subjek sehari,
sedangkan rata-rata asupan protein subjek sedikit lebih tinggi yaitu memenuhi
84.0% kebutuhan subjek sehari. Rata-rata asupan zat besi subjek cukup tinggi
yaitu memenuhi 137.0% kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata asupan
zat besi, rata-rata asupan vitamin C subjek hanya memenuhi 24.0% kebutuhan
subjek. Hal ini menunjukkan bahwa asupan energi dan protein subjek belum cukup
memenuhi kebutuhannya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Dwiningsih dan
Pramono (2013) yang menyatakan bahwa rata-rata asupan energi dan protein remaja
masih tergolong dalam kategori kurang. Asupan zat besi subjek sudah cukup
memenuhi kebutuhannya, dan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi
kebutuhannya. Tingkat kecukupan energi dan zat gizi diukur dengan cara
membandingkan konsumsi energi dan zat gizi subjek dengan kebutuhan energi dan
zat gizi subjek.
TABEL
2 Sebaran Subjek berdasarkan Tingkat Kecukupan
Energi dan Protein
Tingkat
Energi Protein
Kecukupan n % n %
Defisit Berat 14 35.0 13 27.5
Defisit sedang 10 20.0 6 17.5
Defisit ringan 3 12.5 8 20.0
Normal 12 30.0 7 17.5
Total 40 100 40 100
Tabel
2 menunjukkan sebaran subjek berdasarkan tingkat kecukupan energi dan protein.
Tingkat kecukupan energi subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat
(35.0%). Tingkat kecukupan protein subjek pun mayoritas berada pada kategori defisit
berat (27.5%). Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori
cukup sebesar 82.5%. Sebaliknya, tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya
(100.0%) berada pada kategori kurang. Sebagian besar tingkat kecukupan energi
dan protein subjek yang mengalami defisit berat ini diduga karena makanan yang
disediakan oleh LAPAS tidak dikonsumsi sama sekali ataupun hanya separuh. Rasa
dan kualitas bahan makanan yang kurang diduga menjadi faktor utama penyebabnya.
Tingkat kecukupan zat besi yang mayoritas termasuk dalam kategori cukup ini
diduga karena subjek sering dan banyak mengonsumsi pangan yang menjadi sumber
zat besi. Tingkat kecukupan vitamin C yang semuanya berada pada kategori kurang
diduga ka-rena subjek hanya mengonsumsi buah pisang yang kurang mengandung
vitamin C. Sayuran yang disediakan oleh LAPAS banyak yang mengandung vitamin C
tinggi seperti kol, namun mayoritas subjek tidak mengonsumsi sayuran tersebut
karena rasa yang kurang. Rosidi dan Sulistyowati (2012), menyatakan kurangnya
mengonsumsi sayuran dapat mengakibatkan kekurangan salah satu atau lebih
vitamin dan mineral.
TABEL 3 Rata-rata
Energi dan Zat Gizi yang tersedia dan
Tingkat Ketersediaan Makanan yang
Disajikan oleh LAPAS
Energi & zat gizi Rata-rata Rata-rata % AKG
Energi 1973 ± 40 kkal 78.0%
Protein 55.8 ± 4.5 g 92.0%
Zat Besi 22.8 ± 3.5 mg 172.0%
Vitamin C 39.2 ± 3.5 mg 47.0%
Tabel 3 juga menunjukkan rata-rata
energi dan zat gizi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS dan
perbandingannya dengan AKG subjek. Rata-rata energi hanya memenuhi 78.0% kebutuhan
subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein memenuhi 92.0% kebutuhan
subjek dalam sehari. Rata-rata zat besi cukup tinggi yaitu memenuhi 172.0%
kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata zat besi, rata-rata vitamin C
hanya memenuhi 47.0% kebutuhan subjek. Hal ini menunjukkan bahwa energi dari
makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS belum cukup memenuhi kebutuhan
subjek, sedangkan protein sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek. Jika dilihat
dari kebutuhan subjek, zat besi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh
LAPAS memenuhi lebih dari kebutuhan subjek, sedangkan vitamin C masih kurang
memenuhi kebutuhan subjek.
D. Kesimpulan Jurnal
Asupan energi dan protein subjek belum
cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah
cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat kurang
memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecukupan energi dan protein subjek
mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek
mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek
semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi
dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata
tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebutuhan subjek. Sebagian besar
subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar subjek pun
mengalami anemia.
BAB IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Anemia (dalam
bahasa Yunani: ἀναιμία
anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα
haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau
jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah
normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka
mengangkut oksigen dariparu-paru,
dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah
penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit
dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel
darah merah, etiologi yang
mendasari, dan penampakan klinis.
Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya
sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau
kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Asupan energi dan protein subjek belum
cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah
cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat
kurang memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecukupan energi dan protein subjek
mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek
mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek
semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi
dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata
tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebutuhan subjek. Sebagian besar
subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar subjek pun
mengalami anemia.
B. SARAN
Berdasarkan hasil kesimpulan diatas, maka disarankan :
Makanan LAPAS seharusnya
mencukupi kebutuhan subjek, energi dan
protein harus seimbang dalam makanan di LAPAS untuk pengguna narkoba agar
kebutuhan energi dan protein tercukupi.
DAFTAR
PUSTAKA
Arisman,MB.2010.Gizi Dalam Daur Kehidupan.Jakarta:Buku
Kedokteran EGC
Atikah
P, Erna K. 2011. Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta: Muha
Medika.
Indra,
wulandari yettik. 2013. Prinsip Prinsip Dasar Ahli Gizi. Jakarta Timur: Dunia
cerdas
Widyastuti,Agustin,Hardiyanto.(Peneterjemah).2008.GiziKesehatan Masyarakat.Jakarta:
Dewi,
Pujiastuti N, Ibnu Fajar. 2013. Ilmu Gizi untuk praktisi kesehatan. Yogyakarta:
Graha Ilmu Ruko Jambusari No.7 A
Utami
Wahyuningsih1*, Ali Khomsan1, dan Karina Rahmadia Ekawidyani1. 2014. Asupan Zat Gizi, Status Gizi, Dan Status
Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di Lembaga Pemasyarakatan Anak
Pria Tangera. Vol 9 number 1 Maret 2014 diambil dari http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/8259 (27
November 2014)
TUGAS
INDIVIDU
MAKALAH
“ANEMIA”
FITRIANI
70200113016
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT
karena berkat limpahan rahmat Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan judul “ANEMIA”.
Dalam makalah ini saya merangkum seluk beluk penyakit anemia, penjelasan
jurnal anemia yang berjudul Asupan Zat
Gizi, Status Gizi, Dan Status Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di
Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang” sampai dengan ayat Al-qur’an yang berhubungan
dengan penyakit Anemia. Saya sangat
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini saya memiliki banyak keterbatasan ,sehingga jika
pembaca menemukan kekurangan atau kekeliruan dengan hati terbuka penulis
menerima salam dan kritik yang membangun.
Akhirnya,
saya ucapkan selamat membaca,semoga kita dapat memanfaatkan makalah ini
bersama-sama, dengan dasar itikad yang baik untuk mengimplementasikannya dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
Samata, 27 Januari 2015
Penulis
FITRIANI
KESMAS
A
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.............................................................................................. 1
DAFTAR
ISI............................................................................................................ 2
BAB
I PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG.................................................................................. 3
B. RUMUSAN
MASALAH............................................................................. 4
C. TUJUAN
MASALAH.................................................................................. 4
BAB
II PEMBAHASAN
1. Pengertian
Anemia................................................................................... 7
2. Klasifikasi
dan gejala Anemia................................................................. 8
3. Etiologi
Anemia......................................................................................... 12
4. Gambaran
Pathway dan Phatofisiologi Anemia................................. 14
5. Pencegahan
Penyakit Anemia dan metabolism fe............................ 16
6. Integrasi
Ayat Al-qur’an yang berhubungan Anemia........................ 18
BAB
III TINJAUAN KASUS
A. Tujuan
dan Hasil penelitian jurnal........................................................ 20
B. Metode........................................................................................................ 20
C. Penjelasan
table 1,2,3 jurnal ................................................................. 21
D. Kesimpulan
jurnal.................................................................................... 25
BAB
IV PENUTUP
A. KESIMPULAN........................................................................................... 26
B. SARAN....................................................................................................... 27
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Anemia (dalam
bahasa Yunani: ἀναιμία
anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα
haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau
jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah
normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka
mengangkut oksigen dariparu-paru,
dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah
penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit
dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel
darah merah, etiologi yang
mendasari, dan penampakan klinis.
Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya
sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau
kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Istilah anemia mengacu pada suatu kondisi dimana terdapat
penurunan konsentrasi hemoglobin, jumlah SDM sirkulasi, atau volume sel darah
tanpa plasma hematokrit) dibandingkan dengan nilai-nilai normal. Anemia
biasanya dikategorikan menurut penyebab atau morfologi. Untuk mengadopsi tipe
anemia, kita harus menentukan mekanisme dasar dari penyakit tersebut. Hamper
semua anemia dapat dibagi ke dalam dua bentuk:
a. Yang
disebabkan oleh kerusakan pembentukan SDM dan
b. Yang
disebabkan oleh kehilangan atau kerusakan SDM berlebihan.
Karakteristik
morfologi SDM biasanya digunakan dalam klasifikasi anemia. Istilah yang
digunakan termasuk ::
a. Normokrom/normositik:
ukuran dan warna SDM normal diberikan oleh konsentrasi hemoglobin.
b. Mikrositik/hipokrom:
penurunan ukuran dan warna SDM disebabkan oleh ketidakadekuatan konsentrasi
hemoglobin
c. Makrositik:
SDM ukuran besar
d. Poikilositosis:
variasi bentuk SDM
Perubahan pada ukuran SDM atau kandungan
hemoglobin umum terjadi pada anemia yang berhubungan dengan defisiensi besi,
folat, atau vitamin B12. Bentuk sel memberikan petunjuk bermanfaat dalam
mendiagnosis abnormalitas membrane yang diwariskan, anemia hemolitik, dan
hemoglobinopatis.
Seorang pasien dikatakan anemia bila konsentrasi hemoglobin (Hb)
nya kurang dari 13,5 g/dL atau hematokrit (Hct) kurang dari 41%
pada laki-laki, dan konsentrasi Hb kurang dari 11,5 g/dL atau Hct kurang dari
36% pada perempuan.
Anemia adalah salah satu penyakit yang
sering diderita masyarakat, baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil
ataupun orang tua. Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan
zat besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik.
Remaja adalah aset negara karena
merupakan generasi penerus bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa para remaja
ini harus mempunyai kualitas yang baik, yaitu memiliki fisik yang tangguh,
mental yang kuat, dan kesehatan yang prima. Perubahan gaya hidup masyarakat
dewasa ini mengakibatkan adanya perubahan pada pergaulan di kalangan re-maja
seperti merokok, seks bebas, dan salah satunya yang masih menjadi masalah
utama adalah penyalahgunaan narkoba. Jumlah pecandu narkoba di Indonesia
berdasarkan survey Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2008 adalah sebanyak 2%
dari jumlah penduduk atau sekitar 3.3 juta orang. Sekitar 1.3 juta orang di
antaranya adalah pelajar atau mahasiswa yang masih digolongkan sebagai remaja.
Data Direktorat Tindak Pidana Narkoba Maret 2012 menyebutkan jumlah tersangka
kasus narkoba berdasarkan jenis kelamin tahun 2011 adalah 173 286 orang
laki-laki dan 16 026 orang perempuan. Sementara itu, jumlah tersangka kasus narkoba
pada kelompok remaja tahun 2011 adalah 561 orang pada kelompok umur <16
tahun dan 9 635 orang pada ke-lompok umur 16—19 tahun.
Anemia defisiensi dibedakan menjadi:
·
Anemia
defisiensi
·
Anemia
aplastic
·
Anemia
hemoragik
·
Anemia
hemolitik
Anemia
hemolitik dibedakan menjadi:
·
gangguan
intakorpuskuler : kelainan struktur dinding eritrosit, defisiensi enzim,
hemoglobinopatia
·
gangguan
ektrakorpuskuler
Anemia post hemoragik bisa karena :
·
kehilangan
darah mendadak
·
kehilangan
darah menahun
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa pengertian
penyakit Anemia ?
2.
Bagaimana klasifikasi dan gejala penyakit
Anemia ?
3.
Bagaiamana etiologi peyakit Anemia ?
4.
Bagaimana gambaran
Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia ?
5.
Bagaimana pencegahan penyakit Anemia?
6.
Ayat Integrasi ayat
Al-Qur’an ?
C. Tujuan
masalah
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Anemia
2. Untuk
mengetahui klasifikasi dan gejala
penyakit Anemia
3. Untuk mengetahui penyakit etiologi penyakit Anemia
4. Untuk
mengetahui gambaran Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia.
5. Untuk
mengetahui pencegahan Anemia
6. Untuk
mengetahui ayat Al-Qur’an tentang penyakit Anemia
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Penyakit Anemia
Anemia
adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) atau sel
darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas sel darah
merah dalam membawa oksigen (Badan POM, 2011).
Anemia
adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar hemoglobin Hb) dan sel
darah merah eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Jika kadar hemoglobin
kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41% pada pria, maka pria tersebut
dikatakan anemia. Demikian pula pada wanita, wanita yang memiliki kadar
hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%, maka wanita itu
dikatakan anemia. Anemia bukan merupakan penyakit melainkan merupakan
pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara
fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk
mengangkut oksigen ke jaringan.
Anemia didefinisikan
sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb sampai di bawah rentang nilai
yang berlaku untuk orang sehat. Anemia adalah gejala dari kondisi
yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat atau
kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang mengakibatkan
penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan ada banyak tipe anemia dengan
beragam penyebabnya. (Marilyn E, Doenges, Jakarta, 2002)
Anemia adalah keadaan
dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin turun dibawah
normal.(Wong, 2003)
2. KLASIFIKASI ANEMIA
Klasifikasi berdasarkan
pendekatan fisiologis:
a.
Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlash sel darah
merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
1.
Anemia aplastik
Penyebab:
·
Agen neoplastik/sitoplastik
·
Terapi radiasi
·
Antibiotic tertentu
·
Obat anti konvulsan, tyroid, senyawa emas,
fenilbutosan
·
Benzene
Infeksi
virus (khususnya hepatitis)
Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk)
di sumsum tulang
Kelainan sel induk (gangguan
pembelahan , replikasi, deferensiasi) Hambatan humoral/seluler
Gangguan
sel induk di sumsum tulang
Jumlah sel darah merah yang
dihasilkan tak memadai
PANSITOPENIA
Anmemia aplastik
Gejala-gelaja
·
Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
·
Defisiensi
trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna,
perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
·
Morfologis : anemia normositik normokromik
2.
Anemia pada ginjal
Gejala-gejala:
·
Nitrogen
urea darah (BUN) lebih dari 10
mg/dl
·
Hematokrit turun 20-30%
·
Sel darah merah tampak normal pada apusan
darah tepi
Penyebabnya adalah
menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritopotin
3.
Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi
kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normostik normokromik (sel darah
merah dengan ukuran warna yang normal). Kelainan ini meliputi artristik rematoid , abses paru, osteomilitis,
tuberkolosis, dan berbagai keganasan.
4.
Anemia defisiensi besi
Penyebab :
·
Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan
meningkat selama hamil, menstruasi
·
Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
·
Kehilangan darah yang menetap (neoplasma,
polip, gastritis, varises oesophagus, hemoroid)
↓
gangguan eritropoesis
↓
Absorbsi
besi dari usus kurang
↓
sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin
↓
Anemia defisiensi besi
Gejala-gejalanya:
Atropi papilla lidah
Lidah pucat, merah, meradang
Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
5. Anemia
megaloblastik
Penyebab:
Defisiensi defisiensi vitamin
B12 dan defisiensi asam folat
Malnutrisi, malabsorbsi,
penurunan intrinsik faktor
Infeksi parasit, penyakit usus
dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang
terinfeksi, pecandu alkohol.
↓
Sintesis DNA terganggu
↓
Gangguan maturasi inti sel darah merah
↓
Megaloblas (eritroblas yang besar)
↓
Eritrosit immatur dan hipofungsi
6. Anemia
hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh
destruksi sel darah merah:
Pengaruh obat-obatan tertentu
Penyakit Hookin, limfosarkoma,
mieloma multiple, leukemia limfositik kronik
Defisiensi glukosa 6 fosfat
dihidrigenase
Proses autoimun
Reaksi
transfusi
Malaria
↓
Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel
eritrosit
↓
Antigesn pada eritrosit berubah
↓
Dianggap benda asing oleh tubuh
↓
sel darah merah dihancurkan oleh limposit
↓
Anemia hemolisis
3.
ETIOLOGI
ANEMIA
1. Hemolisis (eritrosit
mudah pecah)
2. Perdarahan
3. Penekanan sumsum tulang
(misalnya oleh kanker)
4. Defisiensi
nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic acid,
piridoksin, vitamin C dan copper
Menurut Badan POM (2011), Penyebab anemia yaitu:
a.
Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12,
asam folat, vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan sel
darah merah.
b.
Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi
rawan terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya banyak
dan dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.
c.
Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap
zat besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.
d.
Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan
terus-menerus di saluran pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu
dapat menyebabkan anemia.
e.
Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan
perdarahan lambung (aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat
menyebabkan masalah dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil KB,
antiarthritis, dll).
f.
Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi).
Ini dapat menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan vitamin
B12.
g.
Penyakit radang kronis seperti lupus, arthritis rematik, penyakit
ginjal, masalah pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker dan penyakit
lainnya dapat menyebabkan anemia karena mempengaruhi proses pembentukan sel
darah merah.
h.
Pada anak-anak, anemia dapat terjadi karena infeksi cacing
tambang, malaria, atau disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.
4.
GAMBARAN
PATHWAY dan PATHOFISIOLOGI ANEMIA
A. Gambaran
Pathway (Patrick Davey, 2002)
PATHOFISIOLOGI
Timbulnya anemia mencerminkan adanya
kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau
keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan
toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel
darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini
dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah
merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi)
terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial,
terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang
akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis)
segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤
1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami
penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan
muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi
kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk
mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan
kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu
anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi
sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperleh dengan dasar:1.
hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah
merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat
dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
Anemia
↓
viskositas darah menurun
↓
resistensi aliran darah perifer
↓
penurunan transport O2 ke jaringan
↓
hipoksia, pucat, lemah
↓
beban jantung meningkat
↓
kerja jantung meningkat
↓
payah jantung
5.
Pencegahan Penyakit Anemia
Banyak
jenis anemia tidak dapat dicegah. Tapi anda dapat membantu menghindari iron
deficiency anemia dan vitamin deficiency anemias dengan makanan sehat yang
mengandung:
Zat besi
Dapat
ditemukan pada daging. Jenis lain adalah kacang, sayuran berwana hijau gelap,
buah yang dikeringkan, dan lain-lain.
Folat
Folat
Dapat
ditemukan pada jeruk, pisang, sayuran berwarna hijau gelap, kacang-kavangan,
sereal dan pasta.
Vitamin B-12
Vitamin B-12
Vitamin
ini banyak terdapat pada daging dan susu.
Vitamin C
Vitamin C
membantu penyerapan zat besi. Makanan yang mengandung vitamin C
antara lain jeruk, melon dan buah beri. Makanan yang mengandung zat besi
penting untuk mereka yang membutuhkan zat besi tinggi seperti pada anak-anak,
wanita menstruasi dan wanita hamil. Zat besi yang cukup juga penting untuk
bayi, vegetarian dan atlet.
Metabolisme Fe
Besi
diabsorsi dalam usus halus (duodenum dan yeyenum) proksimal. Besi yang
terkandung dalam makanan ketika dalam lambung dibebaskan menjadi ion fero
dengan bantuan asam lambung (HCL). Kemudian masuk ke usus halus dirubah menjadi
ion fero dengan pengaruh alkali, kemudian ion fero diabsorpsi, sebagian
disimpan sebagai senyawa feritin dan sebagian lagi masuk keperedaran darah
berikatan dengan protein (transferin) yang akan digunakan kembali untuk sintesa
hemoglobin. Sebagian dari transferin yang tidak terpakai disimpan sebagai
labile iron pool. Penyerapan ion fero dipermudah dengan adanya vitamin atau
fruktosa, tetapi akan terhambat dengan fosfat, oksalat, susu, antasid
6.
Intergrasi
Ayat Al-Qur’an
Terjemahan
:
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai,
darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat ini
merujuk pada resipienatau penerima darah adalah orang yang benar-benar dalam
keadaan yang kritis. Dan kita juga dilarang untuk memperjual-belikan darah
tersebut. Sedangkan bagi si pendonor beliau mengutip salah satu hadits Nabi
MuhammadSAW yang mengandung makna: “Tidak
boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak boleh pula
membahayakan orang lain.” yang terakhir
tentang siapa yangmemberikan rujukan, beliau mengutip Hadist Nabi yang
diriwayatkan Al-Bukhari yangmaknanya kurang lebih Rasulullah menyewa seorang
penunjuk jalan yang pada saat itumasih memeluk agama orang kafir quraisy. Ini
berarti tidak mengapa jika yangmemberikan rujukan adalah seorang dokter yang
bukan seorang muslim jika memangtidak ada dokter yang muslim. Kemajuan
ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi darisejumlah teks-teks
agama, salah satunya adalah Quran dan Hadits. Pada sebuah tulisandisebutkan
mengenai deskripsi yang akurat tentang struktur anatomi, prosedur
bedah,karakteristik fisiologi dan pengobatan medis. Paper ini ditulis sebagai
review atau rangkumanuntuk menyajikan secara akurat kontribusi Al Quran dan
Hadits dengan fokus khusus padasistem jantung. Sistem jantung ini sangat erat
kaitannya dengan sistem peredaran darah.Mungkin penting untuk diketahui disini,
bahwa kata " heart "
dalam duniakedokteran berarti jantung, bukan hati. Adapun "hati"
dalam kedokteran adalah liver . Karenaitu
kata qalb dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi
" heart" yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.Mengenai
sistem jantung, darah dan sirkulasinya, terdapat sebuah ayat Al Quran yangmenyatakan bahwa
BAB III
TINJAUAN KASUS
JURNAL “ASUPAN ZAT GIZI, STATUS GIZI, DAN STATUS ANEMIA PADA REMAJA LAKI-LAKI
PENGGUNA NARKOBA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK PRIA TANGERANG” ISSN 1978 - 1059Jurnal Gizi
dan Pangan, Maret 2014, 9(1): 23—28
A. Tujuan dan Hasil
penelitian jurnal
Tujuan penelitian ini adalah untuk
menganalisis asupan energi dan zat gizi, status gizi, dan status anemia remaja
laki-laki pengguna narkoba di lembaga pemasyarakatan (LAPAS) anak pria kelas
IIA Kota Tangerang. Hasil analisis deskriptif menunjukkan
tingkat kecukupan energi (35.0%) dan protein (27.5%) subjek berada pada
kategori defisit berat. Rata-rata energi dari makanan yang disediakan LAPAS
belum memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein sudah
cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Tingkat kecukupan zat besi subjek
berada pada kategori cukup (82.5%) dan tingkat kecukupan vitamin C subjek
berada pada kategori kurang (100.0%). Subjek berada dalam kategori status gizi
normal (85.0%) dan mengalami anemia (57.5%).
B. Metode
Desain,
Tempat, dan Waktu Penelitian
Desain
yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study.
Penelitian ini dilaksa-nakan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Kelas IIA,
Kota Tangerang dan berlangsung selama dua bulan, yaitu dari bulan Juni—Juli 2013.
Jumlah
dan Cara Penarikan Subjek
Subjek
adalah remaja laki-laki pengguna narkoba. Kriteria inklusi subjek adalah
dipenjara karena memakai narkoba, minimal berada dalam lembaga pemasyarakatan
selama tiga bulan, dalam keadaan sehat, tidak memiliki penyakit kronis, dan
bersedia dijadikan subjek penelitian. Jumlah subjek sebanyak 40 orang dan
dipilih secara purposive.
Jenis
dan Cara Pengumpulan Data
Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah primer dan sekunder. Data primer yaitu
karakteristik subjek yang diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan alat
bantu kuesioner. Data frekuensi konsumsi pangan dikumpulkan menggunakan
kuesioner Food Frequency. Data konsumsi makanan dan minuman subjek
diperoleh dengan cara menimbang (food weighing) dan wawancara
menggunakan kuesioner Food Recall. Data ketersediaan makanan dan
minuman diperoleh dengan cara menimbang (food weighing). Data berat
badan dan tinggi badan diperoleh melalui pengukuran menggunakan timbangan
injak dan microtoise. Data status anemia diperoleh melalui pengukuran
menggunakan metode Cyanmethemoglobin.
Pengolahan dan Analisis Data
Data status gizi dikelompokkan
menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) berdasarkan Kemenkes
(2010) untuk remaja 15—18 tahun sedangkan untuk remaja 19—20 tahun menggunakan
IMT berdasarkan WHO (2004). Kriteria anemia menurut WHO (2001) untuk remaja
laki-laki adalah <13 g/dl.
C. TABEL 1,2,3 Pada Jurnal
Rata-rata
Asupan dan Tingkat Kecukupan Energi dan
Zat Gizi
Energi & Zat Gizi Rata-rata Asupan Rata-rata %AKG
Energi
1
959 ± 584 kkal 79.0%
Protein 51 ±
16.2 g 84.0%
Zat Besi 18 ± 6.7 mg 137.0%
Vitamin
C 20
± 14.1 mg 24.0%
Tabel 1 menunjukkan
rata-rata asupan energi dan zat gizi subjek dan persentase AKG subjek.
Rata-rata asupan energi subjek baru memenuhi 79.0% kebutuhan subjek sehari,
sedangkan rata-rata asupan protein subjek sedikit lebih tinggi yaitu memenuhi
84.0% kebutuhan subjek sehari. Rata-rata asupan zat besi subjek cukup tinggi
yaitu memenuhi 137.0% kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata asupan
zat besi, rata-rata asupan vitamin C subjek hanya memenuhi 24.0% kebutuhan
subjek. Hal ini menunjukkan bahwa asupan energi dan protein subjek belum cukup
memenuhi kebutuhannya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Dwiningsih dan
Pramono (2013) yang menyatakan bahwa rata-rata asupan energi dan protein remaja
masih tergolong dalam kategori kurang. Asupan zat besi subjek sudah cukup
memenuhi kebutuhannya, dan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi
kebutuhannya. Tingkat kecukupan energi dan zat gizi diukur dengan cara
membandingkan konsumsi energi dan zat gizi subjek dengan kebutuhan energi dan
zat gizi subjek.
TABEL
2 Sebaran Subjek berdasarkan Tingkat Kecukupan
Energi dan Protein
Tingkat
Energi Protein
Kecukupan n % n %
Defisit Berat 14 35.0 13 27.5
Defisit sedang 10 20.0 6 17.5
Defisit ringan 3 12.5 8 20.0
Normal 12 30.0 7 17.5
Total 40 100 40 100
Tabel
2 menunjukkan sebaran subjek berdasarkan tingkat kecukupan energi dan protein.
Tingkat kecukupan energi subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat
(35.0%). Tingkat kecukupan protein subjek pun mayoritas berada pada kategori defisit
berat (27.5%). Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori
cukup sebesar 82.5%. Sebaliknya, tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya
(100.0%) berada pada kategori kurang. Sebagian besar tingkat kecukupan energi
dan protein subjek yang mengalami defisit berat ini diduga karena makanan yang
disediakan oleh LAPAS tidak dikonsumsi sama sekali ataupun hanya separuh. Rasa
dan kualitas bahan makanan yang kurang diduga menjadi faktor utama penyebabnya.
Tingkat kecukupan zat besi yang mayoritas termasuk dalam kategori cukup ini
diduga karena subjek sering dan banyak mengonsumsi pangan yang menjadi sumber
zat besi. Tingkat kecukupan vitamin C yang semuanya berada pada kategori kurang
diduga ka-rena subjek hanya mengonsumsi buah pisang yang kurang mengandung
vitamin C. Sayuran yang disediakan oleh LAPAS banyak yang mengandung vitamin C
tinggi seperti kol, namun mayoritas subjek tidak mengonsumsi sayuran tersebut
karena rasa yang kurang. Rosidi dan Sulistyowati (2012), menyatakan kurangnya
mengonsumsi sayuran dapat mengakibatkan kekurangan salah satu atau lebih
vitamin dan mineral.
TABEL 3 Rata-rata
Energi dan Zat Gizi yang tersedia dan
Tingkat Ketersediaan Makanan yang
Disajikan oleh LAPAS
Energi & zat gizi Rata-rata Rata-rata % AKG
Energi 1973 ± 40 kkal 78.0%
Protein 55.8 ± 4.5 g 92.0%
Zat Besi 22.8 ± 3.5 mg 172.0%
Vitamin C 39.2 ± 3.5 mg 47.0%
Tabel 3 juga menunjukkan rata-rata
energi dan zat gizi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS dan
perbandingannya dengan AKG subjek. Rata-rata energi hanya memenuhi 78.0% kebutuhan
subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein memenuhi 92.0% kebutuhan
subjek dalam sehari. Rata-rata zat besi cukup tinggi yaitu memenuhi 172.0%
kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata zat besi, rata-rata vitamin C
hanya memenuhi 47.0% kebutuhan subjek. Hal ini menunjukkan bahwa energi dari
makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS belum cukup memenuhi kebutuhan
subjek, sedangkan protein sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek. Jika dilihat
dari kebutuhan subjek, zat besi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh
LAPAS memenuhi lebih dari kebutuhan subjek, sedangkan vitamin C masih kurang
memenuhi kebutuhan subjek.
D. Kesimpulan Jurnal
Asupan energi dan protein subjek belum
cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah
cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat kurang
memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecukupan energi dan protein subjek
mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek
mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek
semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi
dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata
tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebutuhan subjek. Sebagian besar
subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar subjek pun
mengalami anemia.
BAB IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Anemia (dalam
bahasa Yunani: ἀναιμία
anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα
haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau
jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah
normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka
mengangkut oksigen dariparu-paru,
dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah
penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit
dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel
darah merah, etiologi yang
mendasari, dan penampakan klinis.
Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya
sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau
kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Asupan energi dan protein subjek belum
cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah
cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat
kurang memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecukupan energi dan protein subjek
mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek
mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek
semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi
dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata
tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebutuhan subjek. Sebagian besar
subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar subjek pun
mengalami anemia.
B. SARAN
Berdasarkan hasil kesimpulan diatas, maka disarankan :
Makanan LAPAS seharusnya
mencukupi kebutuhan subjek, energi dan
protein harus seimbang dalam makanan di LAPAS untuk pengguna narkoba agar
kebutuhan energi dan protein tercukupi.
DAFTAR
PUSTAKA
Arisman,MB.2010.Gizi Dalam Daur Kehidupan.Jakarta:Buku
Kedokteran EGC
Atikah
P, Erna K. 2011. Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta: Muha
Medika.
Indra,
wulandari yettik. 2013. Prinsip Prinsip Dasar Ahli Gizi. Jakarta Timur: Dunia
cerdas
Widyastuti,Agustin,Hardiyanto.(Peneterjemah).2008.GiziKesehatan Masyarakat.Jakarta:
Dewi,
Pujiastuti N, Ibnu Fajar. 2013. Ilmu Gizi untuk praktisi kesehatan. Yogyakarta:
Graha Ilmu Ruko Jambusari No.7 A
Utami
Wahyuningsih1*, Ali Khomsan1, dan Karina Rahmadia Ekawidyani1. 2014. Asupan Zat Gizi, Status Gizi, Dan Status
Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di Lembaga Pemasyarakatan Anak
Pria Tangera. Vol 9 number 1 Maret 2014 diambil dari http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/8259 (27
November 2014)
TUGAS
INDIVIDU
MAKALAH
“ANEMIA”
FITRIANI
70200113016
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT
karena berkat limpahan rahmat Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan judul “ANEMIA”.
Dalam makalah ini saya merangkum seluk beluk penyakit anemia, penjelasan
jurnal anemia yang berjudul Asupan Zat
Gizi, Status Gizi, Dan Status Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di
Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang” sampai dengan ayat Al-qur’an yang berhubungan
dengan penyakit Anemia. Saya sangat
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini saya memiliki banyak keterbatasan ,sehingga jika
pembaca menemukan kekurangan atau kekeliruan dengan hati terbuka penulis
menerima salam dan kritik yang membangun.
Akhirnya,
saya ucapkan selamat membaca,semoga kita dapat memanfaatkan makalah ini
bersama-sama, dengan dasar itikad yang baik untuk mengimplementasikannya dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
Samata, 27 Januari 2015
Penulis
FITRIANI
KESMAS
A
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.............................................................................................. 1
DAFTAR
ISI............................................................................................................ 2
BAB
I PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG.................................................................................. 3
B. RUMUSAN
MASALAH............................................................................. 4
C. TUJUAN
MASALAH.................................................................................. 4
BAB
II PEMBAHASAN
1. Pengertian
Anemia................................................................................... 7
2. Klasifikasi
dan gejala Anemia................................................................. 8
3. Etiologi
Anemia......................................................................................... 12
4. Gambaran
Pathway dan Phatofisiologi Anemia................................. 14
5. Pencegahan
Penyakit Anemia dan metabolism fe............................ 16
6. Integrasi
Ayat Al-qur’an yang berhubungan Anemia........................ 18
BAB
III TINJAUAN KASUS
A. Tujuan
dan Hasil penelitian jurnal........................................................ 20
B. Metode........................................................................................................ 20
C. Penjelasan
table 1,2,3 jurnal ................................................................. 21
D. Kesimpulan
jurnal.................................................................................... 25
BAB
IV PENUTUP
A. KESIMPULAN........................................................................................... 26
B. SARAN....................................................................................................... 27
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Anemia (dalam
bahasa Yunani: ἀναιμία
anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα
haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau
jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah
normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka
mengangkut oksigen dariparu-paru,
dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah
penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit
dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel
darah merah, etiologi yang
mendasari, dan penampakan klinis.
Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya
sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau
kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Istilah anemia mengacu pada suatu kondisi dimana terdapat
penurunan konsentrasi hemoglobin, jumlah SDM sirkulasi, atau volume sel darah
tanpa plasma hematokrit) dibandingkan dengan nilai-nilai normal. Anemia
biasanya dikategorikan menurut penyebab atau morfologi. Untuk mengadopsi tipe
anemia, kita harus menentukan mekanisme dasar dari penyakit tersebut. Hamper
semua anemia dapat dibagi ke dalam dua bentuk:
a. Yang
disebabkan oleh kerusakan pembentukan SDM dan
b. Yang
disebabkan oleh kehilangan atau kerusakan SDM berlebihan.
Karakteristik
morfologi SDM biasanya digunakan dalam klasifikasi anemia. Istilah yang
digunakan termasuk ::
a. Normokrom/normositik:
ukuran dan warna SDM normal diberikan oleh konsentrasi hemoglobin.
b. Mikrositik/hipokrom:
penurunan ukuran dan warna SDM disebabkan oleh ketidakadekuatan konsentrasi
hemoglobin
c. Makrositik:
SDM ukuran besar
d. Poikilositosis:
variasi bentuk SDM
Perubahan pada ukuran SDM atau kandungan
hemoglobin umum terjadi pada anemia yang berhubungan dengan defisiensi besi,
folat, atau vitamin B12. Bentuk sel memberikan petunjuk bermanfaat dalam
mendiagnosis abnormalitas membrane yang diwariskan, anemia hemolitik, dan
hemoglobinopatis.
Seorang pasien dikatakan anemia bila konsentrasi hemoglobin (Hb)
nya kurang dari 13,5 g/dL atau hematokrit (Hct) kurang dari 41%
pada laki-laki, dan konsentrasi Hb kurang dari 11,5 g/dL atau Hct kurang dari
36% pada perempuan.
Anemia adalah salah satu penyakit yang
sering diderita masyarakat, baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil
ataupun orang tua. Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan
zat besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik.
Remaja adalah aset negara karena
merupakan generasi penerus bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa para remaja
ini harus mempunyai kualitas yang baik, yaitu memiliki fisik yang tangguh,
mental yang kuat, dan kesehatan yang prima. Perubahan gaya hidup masyarakat
dewasa ini mengakibatkan adanya perubahan pada pergaulan di kalangan re-maja
seperti merokok, seks bebas, dan salah satunya yang masih menjadi masalah
utama adalah penyalahgunaan narkoba. Jumlah pecandu narkoba di Indonesia
berdasarkan survey Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2008 adalah sebanyak 2%
dari jumlah penduduk atau sekitar 3.3 juta orang. Sekitar 1.3 juta orang di
antaranya adalah pelajar atau mahasiswa yang masih digolongkan sebagai remaja.
Data Direktorat Tindak Pidana Narkoba Maret 2012 menyebutkan jumlah tersangka
kasus narkoba berdasarkan jenis kelamin tahun 2011 adalah 173 286 orang
laki-laki dan 16 026 orang perempuan. Sementara itu, jumlah tersangka kasus narkoba
pada kelompok remaja tahun 2011 adalah 561 orang pada kelompok umur <16
tahun dan 9 635 orang pada ke-lompok umur 16—19 tahun.
Anemia defisiensi dibedakan menjadi:
·
Anemia
defisiensi
·
Anemia
aplastic
·
Anemia
hemoragik
·
Anemia
hemolitik
Anemia
hemolitik dibedakan menjadi:
·
gangguan
intakorpuskuler : kelainan struktur dinding eritrosit, defisiensi enzim,
hemoglobinopatia
·
gangguan
ektrakorpuskuler
Anemia post hemoragik bisa karena :
·
kehilangan
darah mendadak
·
kehilangan
darah menahun
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa pengertian
penyakit Anemia ?
2.
Bagaimana klasifikasi dan gejala penyakit
Anemia ?
3.
Bagaiamana etiologi peyakit Anemia ?
4.
Bagaimana gambaran
Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia ?
5.
Bagaimana pencegahan penyakit Anemia?
6.
Ayat Integrasi ayat
Al-Qur’an ?
C. Tujuan
masalah
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Anemia
2. Untuk
mengetahui klasifikasi dan gejala
penyakit Anemia
3. Untuk mengetahui penyakit etiologi penyakit Anemia
4. Untuk
mengetahui gambaran Pathway dan patofisiologi penyakit Anemia.
5. Untuk
mengetahui pencegahan Anemia
6. Untuk
mengetahui ayat Al-Qur’an tentang penyakit Anemia
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Penyakit Anemia
Anemia
adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) atau sel
darah merah (eritrosit) sehingga menyebabkan penurunan kapasitas sel darah
merah dalam membawa oksigen (Badan POM, 2011).
Anemia
adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar hemoglobin Hb) dan sel
darah merah eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Jika kadar hemoglobin
kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41% pada pria, maka pria tersebut
dikatakan anemia. Demikian pula pada wanita, wanita yang memiliki kadar
hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%, maka wanita itu
dikatakan anemia. Anemia bukan merupakan penyakit melainkan merupakan
pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara
fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk
mengangkut oksigen ke jaringan.
Anemia didefinisikan
sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb sampai di bawah rentang nilai
yang berlaku untuk orang sehat. Anemia adalah gejala dari kondisi
yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat atau
kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang mengakibatkan
penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah dan ada banyak tipe anemia dengan
beragam penyebabnya. (Marilyn E, Doenges, Jakarta, 2002)
Anemia adalah keadaan
dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin turun dibawah
normal.(Wong, 2003)
2. KLASIFIKASI ANEMIA
Klasifikasi berdasarkan
pendekatan fisiologis:
a.
Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlash sel darah
merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
1.
Anemia aplastik
Penyebab:
·
Agen neoplastik/sitoplastik
·
Terapi radiasi
·
Antibiotic tertentu
·
Obat anti konvulsan, tyroid, senyawa emas,
fenilbutosan
·
Benzene
Infeksi
virus (khususnya hepatitis)
Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk)
di sumsum tulang
Kelainan sel induk (gangguan
pembelahan , replikasi, deferensiasi) Hambatan humoral/seluler
Gangguan
sel induk di sumsum tulang
Jumlah sel darah merah yang
dihasilkan tak memadai
PANSITOPENIA
Anmemia aplastik
Gejala-gelaja
·
Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
·
Defisiensi
trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna,
perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
·
Morfologis : anemia normositik normokromik
2.
Anemia pada ginjal
Gejala-gejala:
·
Nitrogen
urea darah (BUN) lebih dari 10
mg/dl
·
Hematokrit turun 20-30%
·
Sel darah merah tampak normal pada apusan
darah tepi
Penyebabnya adalah
menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritopotin
3.
Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi
kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normostik normokromik (sel darah
merah dengan ukuran warna yang normal). Kelainan ini meliputi artristik rematoid , abses paru, osteomilitis,
tuberkolosis, dan berbagai keganasan.
4.
Anemia defisiensi besi
Penyebab :
·
Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan
meningkat selama hamil, menstruasi
·
Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
·
Kehilangan darah yang menetap (neoplasma,
polip, gastritis, varises oesophagus, hemoroid)
↓
gangguan eritropoesis
↓
Absorbsi
besi dari usus kurang
↓
sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin
↓
Anemia defisiensi besi
Gejala-gejalanya:
Atropi papilla lidah
Lidah pucat, merah, meradang
Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
5. Anemia
megaloblastik
Penyebab:
Defisiensi defisiensi vitamin
B12 dan defisiensi asam folat
Malnutrisi, malabsorbsi,
penurunan intrinsik faktor
Infeksi parasit, penyakit usus
dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang
terinfeksi, pecandu alkohol.
↓
Sintesis DNA terganggu
↓
Gangguan maturasi inti sel darah merah
↓
Megaloblas (eritroblas yang besar)
↓
Eritrosit immatur dan hipofungsi
6. Anemia
hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh
destruksi sel darah merah:
Pengaruh obat-obatan tertentu
Penyakit Hookin, limfosarkoma,
mieloma multiple, leukemia limfositik kronik
Defisiensi glukosa 6 fosfat
dihidrigenase
Proses autoimun
Reaksi
transfusi
Malaria
↓
Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel
eritrosit
↓
Antigesn pada eritrosit berubah
↓
Dianggap benda asing oleh tubuh
↓
sel darah merah dihancurkan oleh limposit
↓
Anemia hemolisis
3.
ETIOLOGI
ANEMIA
1. Hemolisis (eritrosit
mudah pecah)
2. Perdarahan
3. Penekanan sumsum tulang
(misalnya oleh kanker)
4. Defisiensi
nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic acid,
piridoksin, vitamin C dan copper
Menurut Badan POM (2011), Penyebab anemia yaitu:
a.
Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12,
asam folat, vitamin C, dan unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan sel
darah merah.
b.
Darah menstruasi yang berlebihan. Wanita yang sedang menstruasi
rawan terkena anemia karena kekurangan zat besi bila darah menstruasinya banyak
dan dia tidak memiliki cukup persediaan zat besi.
c.
Kehamilan. Wanita yang hamil rawan terkena anemia karena janin menyerap
zat besi dan vitamin untuk pertumbuhannya.
d.
Penyakit tertentu. Penyakit yang menyebabkan perdarahan
terus-menerus di saluran pencernaan seperti gastritis dan radang usus buntu
dapat menyebabkan anemia.
e.
Obat-obatan tertentu. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan
perdarahan lambung (aspirin, anti infl amasi, dll). Obat lainnya dapat
menyebabkan masalah dalam penyerapan zat besi dan vitamin (antasid, pil KB,
antiarthritis, dll).
f.
Operasi pengambilan sebagian atau seluruh lambung (gastrektomi).
Ini dapat menyebabkan anemia karena tubuh kurang menyerap zat besi dan vitamin
B12.
g.
Penyakit radang kronis seperti lupus, arthritis rematik, penyakit
ginjal, masalah pada kelenjar tiroid, beberapa jenis kanker dan penyakit
lainnya dapat menyebabkan anemia karena mempengaruhi proses pembentukan sel
darah merah.
h.
Pada anak-anak, anemia dapat terjadi karena infeksi cacing
tambang, malaria, atau disentri yang menyebabkan kekurangan darah yang parah.
4.
GAMBARAN
PATHWAY dan PATHOFISIOLOGI ANEMIA
A. Gambaran
Pathway (Patrick Davey, 2002)
PATHOFISIOLOGI
Timbulnya anemia mencerminkan adanya
kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau
keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan
toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel
darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini
dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah
merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi)
terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial,
terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang
akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis)
segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤
1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami
penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan
muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi
kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk
mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan
kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu
anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi
sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperleh dengan dasar:1.
hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah
merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat
dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
Anemia
↓
viskositas darah menurun
↓
resistensi aliran darah perifer
↓
penurunan transport O2 ke jaringan
↓
hipoksia, pucat, lemah
↓
beban jantung meningkat
↓
kerja jantung meningkat
↓
payah jantung
5.
Pencegahan Penyakit Anemia
Banyak
jenis anemia tidak dapat dicegah. Tapi anda dapat membantu menghindari iron
deficiency anemia dan vitamin deficiency anemias dengan makanan sehat yang
mengandung:
Zat besi
Dapat
ditemukan pada daging. Jenis lain adalah kacang, sayuran berwana hijau gelap,
buah yang dikeringkan, dan lain-lain.
Folat
Folat
Dapat
ditemukan pada jeruk, pisang, sayuran berwarna hijau gelap, kacang-kavangan,
sereal dan pasta.
Vitamin B-12
Vitamin B-12
Vitamin
ini banyak terdapat pada daging dan susu.
Vitamin C
Vitamin C
membantu penyerapan zat besi. Makanan yang mengandung vitamin C
antara lain jeruk, melon dan buah beri. Makanan yang mengandung zat besi
penting untuk mereka yang membutuhkan zat besi tinggi seperti pada anak-anak,
wanita menstruasi dan wanita hamil. Zat besi yang cukup juga penting untuk
bayi, vegetarian dan atlet.
Metabolisme Fe
Besi
diabsorsi dalam usus halus (duodenum dan yeyenum) proksimal. Besi yang
terkandung dalam makanan ketika dalam lambung dibebaskan menjadi ion fero
dengan bantuan asam lambung (HCL). Kemudian masuk ke usus halus dirubah menjadi
ion fero dengan pengaruh alkali, kemudian ion fero diabsorpsi, sebagian
disimpan sebagai senyawa feritin dan sebagian lagi masuk keperedaran darah
berikatan dengan protein (transferin) yang akan digunakan kembali untuk sintesa
hemoglobin. Sebagian dari transferin yang tidak terpakai disimpan sebagai
labile iron pool. Penyerapan ion fero dipermudah dengan adanya vitamin atau
fruktosa, tetapi akan terhambat dengan fosfat, oksalat, susu, antasid
6.
Intergrasi
Ayat Al-Qur’an
Terjemahan
:
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai,
darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat ini
merujuk pada resipienatau penerima darah adalah orang yang benar-benar dalam
keadaan yang kritis. Dan kita juga dilarang untuk memperjual-belikan darah
tersebut. Sedangkan bagi si pendonor beliau mengutip salah satu hadits Nabi
MuhammadSAW yang mengandung makna: “Tidak
boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak boleh pula
membahayakan orang lain.” yang terakhir
tentang siapa yangmemberikan rujukan, beliau mengutip Hadist Nabi yang
diriwayatkan Al-Bukhari yangmaknanya kurang lebih Rasulullah menyewa seorang
penunjuk jalan yang pada saat itumasih memeluk agama orang kafir quraisy. Ini
berarti tidak mengapa jika yangmemberikan rujukan adalah seorang dokter yang
bukan seorang muslim jika memangtidak ada dokter yang muslim. Kemajuan
ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi darisejumlah teks-teks
agama, salah satunya adalah Quran dan Hadits. Pada sebuah tulisandisebutkan
mengenai deskripsi yang akurat tentang struktur anatomi, prosedur
bedah,karakteristik fisiologi dan pengobatan medis. Paper ini ditulis sebagai
review atau rangkumanuntuk menyajikan secara akurat kontribusi Al Quran dan
Hadits dengan fokus khusus padasistem jantung. Sistem jantung ini sangat erat
kaitannya dengan sistem peredaran darah.Mungkin penting untuk diketahui disini,
bahwa kata " heart "
dalam duniakedokteran berarti jantung, bukan hati. Adapun "hati"
dalam kedokteran adalah liver . Karenaitu
kata qalb dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi
" heart" yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.Mengenai
sistem jantung, darah dan sirkulasinya, terdapat sebuah ayat Al Quran yangmenyatakan bahwa
BAB III
TINJAUAN KASUS
JURNAL “ASUPAN ZAT GIZI, STATUS GIZI, DAN STATUS ANEMIA PADA REMAJA LAKI-LAKI
PENGGUNA NARKOBA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK PRIA TANGERANG” ISSN 1978 - 1059Jurnal Gizi
dan Pangan, Maret 2014, 9(1): 23—28
A. Tujuan dan Hasil
penelitian jurnal
Tujuan penelitian ini adalah untuk
menganalisis asupan energi dan zat gizi, status gizi, dan status anemia remaja
laki-laki pengguna narkoba di lembaga pemasyarakatan (LAPAS) anak pria kelas
IIA Kota Tangerang. Hasil analisis deskriptif menunjukkan
tingkat kecukupan energi (35.0%) dan protein (27.5%) subjek berada pada
kategori defisit berat. Rata-rata energi dari makanan yang disediakan LAPAS
belum memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein sudah
cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Tingkat kecukupan zat besi subjek
berada pada kategori cukup (82.5%) dan tingkat kecukupan vitamin C subjek
berada pada kategori kurang (100.0%). Subjek berada dalam kategori status gizi
normal (85.0%) dan mengalami anemia (57.5%).
B. Metode
Desain,
Tempat, dan Waktu Penelitian
Desain
yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study.
Penelitian ini dilaksa-nakan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Kelas IIA,
Kota Tangerang dan berlangsung selama dua bulan, yaitu dari bulan Juni—Juli 2013.
Jumlah
dan Cara Penarikan Subjek
Subjek
adalah remaja laki-laki pengguna narkoba. Kriteria inklusi subjek adalah
dipenjara karena memakai narkoba, minimal berada dalam lembaga pemasyarakatan
selama tiga bulan, dalam keadaan sehat, tidak memiliki penyakit kronis, dan
bersedia dijadikan subjek penelitian. Jumlah subjek sebanyak 40 orang dan
dipilih secara purposive.
Jenis
dan Cara Pengumpulan Data
Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah primer dan sekunder. Data primer yaitu
karakteristik subjek yang diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan alat
bantu kuesioner. Data frekuensi konsumsi pangan dikumpulkan menggunakan
kuesioner Food Frequency. Data konsumsi makanan dan minuman subjek
diperoleh dengan cara menimbang (food weighing) dan wawancara
menggunakan kuesioner Food Recall. Data ketersediaan makanan dan
minuman diperoleh dengan cara menimbang (food weighing). Data berat
badan dan tinggi badan diperoleh melalui pengukuran menggunakan timbangan
injak dan microtoise. Data status anemia diperoleh melalui pengukuran
menggunakan metode Cyanmethemoglobin.
Pengolahan dan Analisis Data
Data status gizi dikelompokkan
menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) berdasarkan Kemenkes
(2010) untuk remaja 15—18 tahun sedangkan untuk remaja 19—20 tahun menggunakan
IMT berdasarkan WHO (2004). Kriteria anemia menurut WHO (2001) untuk remaja
laki-laki adalah <13 g/dl.
C. TABEL 1,2,3 Pada Jurnal
Rata-rata
Asupan dan Tingkat Kecukupan Energi dan
Zat Gizi
Energi & Zat Gizi Rata-rata Asupan Rata-rata %AKG
Energi
1
959 ± 584 kkal 79.0%
Protein 51 ±
16.2 g 84.0%
Zat Besi 18 ± 6.7 mg 137.0%
Vitamin
C 20
± 14.1 mg 24.0%
Tabel 1 menunjukkan
rata-rata asupan energi dan zat gizi subjek dan persentase AKG subjek.
Rata-rata asupan energi subjek baru memenuhi 79.0% kebutuhan subjek sehari,
sedangkan rata-rata asupan protein subjek sedikit lebih tinggi yaitu memenuhi
84.0% kebutuhan subjek sehari. Rata-rata asupan zat besi subjek cukup tinggi
yaitu memenuhi 137.0% kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata asupan
zat besi, rata-rata asupan vitamin C subjek hanya memenuhi 24.0% kebutuhan
subjek. Hal ini menunjukkan bahwa asupan energi dan protein subjek belum cukup
memenuhi kebutuhannya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Dwiningsih dan
Pramono (2013) yang menyatakan bahwa rata-rata asupan energi dan protein remaja
masih tergolong dalam kategori kurang. Asupan zat besi subjek sudah cukup
memenuhi kebutuhannya, dan asupan vitamin C subjek sangat kurang memenuhi
kebutuhannya. Tingkat kecukupan energi dan zat gizi diukur dengan cara
membandingkan konsumsi energi dan zat gizi subjek dengan kebutuhan energi dan
zat gizi subjek.
TABEL
2 Sebaran Subjek berdasarkan Tingkat Kecukupan
Energi dan Protein
Tingkat
Energi Protein
Kecukupan n % n %
Defisit Berat 14 35.0 13 27.5
Defisit sedang 10 20.0 6 17.5
Defisit ringan 3 12.5 8 20.0
Normal 12 30.0 7 17.5
Total 40 100 40 100
Tabel
2 menunjukkan sebaran subjek berdasarkan tingkat kecukupan energi dan protein.
Tingkat kecukupan energi subjek mayoritas berada pada kategori defisit berat
(35.0%). Tingkat kecukupan protein subjek pun mayoritas berada pada kategori defisit
berat (27.5%). Tingkat kecukupan zat besi subjek mayoritas berada pada kategori
cukup sebesar 82.5%. Sebaliknya, tingkat kecukupan vitamin C subjek semuanya
(100.0%) berada pada kategori kurang. Sebagian besar tingkat kecukupan energi
dan protein subjek yang mengalami defisit berat ini diduga karena makanan yang
disediakan oleh LAPAS tidak dikonsumsi sama sekali ataupun hanya separuh. Rasa
dan kualitas bahan makanan yang kurang diduga menjadi faktor utama penyebabnya.
Tingkat kecukupan zat besi yang mayoritas termasuk dalam kategori cukup ini
diduga karena subjek sering dan banyak mengonsumsi pangan yang menjadi sumber
zat besi. Tingkat kecukupan vitamin C yang semuanya berada pada kategori kurang
diduga ka-rena subjek hanya mengonsumsi buah pisang yang kurang mengandung
vitamin C. Sayuran yang disediakan oleh LAPAS banyak yang mengandung vitamin C
tinggi seperti kol, namun mayoritas subjek tidak mengonsumsi sayuran tersebut
karena rasa yang kurang. Rosidi dan Sulistyowati (2012), menyatakan kurangnya
mengonsumsi sayuran dapat mengakibatkan kekurangan salah satu atau lebih
vitamin dan mineral.
TABEL 3 Rata-rata
Energi dan Zat Gizi yang tersedia dan
Tingkat Ketersediaan Makanan yang
Disajikan oleh LAPAS
Energi & zat gizi Rata-rata Rata-rata % AKG
Energi 1973 ± 40 kkal 78.0%
Protein 55.8 ± 4.5 g 92.0%
Zat Besi 22.8 ± 3.5 mg 172.0%
Vitamin C 39.2 ± 3.5 mg 47.0%
Tabel 3 juga menunjukkan rata-rata
energi dan zat gizi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS dan
perbandingannya dengan AKG subjek. Rata-rata energi hanya memenuhi 78.0% kebutuhan
subjek dalam sehari, sedangkan rata-rata protein memenuhi 92.0% kebutuhan
subjek dalam sehari. Rata-rata zat besi cukup tinggi yaitu memenuhi 172.0%
kebutuhan subjek. Berbeda jauh dengan rata-rata zat besi, rata-rata vitamin C
hanya memenuhi 47.0% kebutuhan subjek. Hal ini menunjukkan bahwa energi dari
makanan dan minuman yang disajikan oleh LAPAS belum cukup memenuhi kebutuhan
subjek, sedangkan protein sudah cukup memenuhi kebutuhan subjek. Jika dilihat
dari kebutuhan subjek, zat besi dari makanan dan minuman yang disajikan oleh
LAPAS memenuhi lebih dari kebutuhan subjek, sedangkan vitamin C masih kurang
memenuhi kebutuhan subjek.
D. Kesimpulan Jurnal
Asupan energi dan protein subjek belum
cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah
cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat kurang
memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecukupan energi dan protein subjek
mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek
mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek
semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi
dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata
tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebutuhan subjek. Sebagian besar
subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar subjek pun
mengalami anemia.
BAB IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Anemia (dalam
bahasa Yunani: ἀναιμία
anaimia, artinya kekurangan darah, from ἀν- an-, "tidak ada" + αἷμα
haima, "darah" ) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau
jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah
normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka
mengangkut oksigen dariparu-paru,
dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia adalah
penyakit darah yang sering ditemukan. Beberapa anemia memiliki penyakit
dasarnya. Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel
darah merah, etiologi yang
mendasari, dan penampakan klinis.
Penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya
sel darah merah secara berlebihanhemolisis atau
kekurangan pembentukan sel darah merah ( hematopoiesis yang tidak efektif).
Asupan energi dan protein subjek belum
cukup memenuhi kebutuhan subjek dalam sehari. Asupan zat besi subjek sudah
cukup memenuhi kebutuhan subjek, sedangkan asupan vitamin C subjek sangat
kurang memenuhi kebutuhan subjek. Tingkat kecukupan energi dan protein subjek
mayoritas berada pada kategori defisit berat. Tingkat kecukupan zat besi subjek
mayoritas berada pada kategori cukup dan tingkat kecukupan vitamin C subjek
semuanya berada pada kategori kurang. Rata-rata tingkat ketersediaan energi
dari makanan LAPAS belum mencukupi kebutuhan subjek, sedangkan rata-rata
tingkat ketersediaan protein sudah memenuhi kebutuhan subjek. Sebagian besar
subjek berada dalam kategori status gizi normal dan sebagian besar subjek pun
mengalami anemia.
B. SARAN
Berdasarkan hasil kesimpulan diatas, maka disarankan :
Makanan LAPAS seharusnya
mencukupi kebutuhan subjek, energi dan
protein harus seimbang dalam makanan di LAPAS untuk pengguna narkoba agar
kebutuhan energi dan protein tercukupi.
DAFTAR
PUSTAKA
Arisman,MB.2010.Gizi Dalam Daur Kehidupan.Jakarta:Buku
Kedokteran EGC
Atikah
P, Erna K. 2011. Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta: Muha
Medika.
Indra,
wulandari yettik. 2013. Prinsip Prinsip Dasar Ahli Gizi. Jakarta Timur: Dunia
cerdas
Widyastuti,Agustin,Hardiyanto.(Peneterjemah).2008.GiziKesehatan Masyarakat.Jakarta:
Dewi,
Pujiastuti N, Ibnu Fajar. 2013. Ilmu Gizi untuk praktisi kesehatan. Yogyakarta:
Graha Ilmu Ruko Jambusari No.7 A
Utami
Wahyuningsih1*, Ali Khomsan1, dan Karina Rahmadia Ekawidyani1. 2014. Asupan Zat Gizi, Status Gizi, Dan Status
Anemia Pada Remaja Laki-Laki Pengguna Narkoba Di Lembaga Pemasyarakatan Anak
Pria Tangera. Vol 9 number 1 Maret 2014 diambil dari http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/8259 (27
November 2014)
Langganan:
Komentar (Atom)









